Showing posts with label Bali. Show all posts
Showing posts with label Bali. Show all posts

Saturday, 20 December 2014

Harinya Hari Raya

Bali, Desember 2014. Waktu akhir-akhir ini seakan penuh dengan berbagai perayaan. 17 Desember lalu, umat Hindu di seluruh Indonesia merayakan hari raya Galungan. Beberapa hari lagi, seluruh umat Nasrani juga akan memperingati Natal sebagai momentum kelahiran Yesus Kristus. Dan tentunya puncak perayaan bulan ini akan tumpah ruah pada Tahun Baru 2015.

Sebagai warga Bali, ada kemacetan tidak biasa yang kembali terulang dari tahun ke tahun setiap momen peak-season seperti Lebaran atau Tahun Baru tiba. Sudah banyak diskusi dari pihak pemerintah provinsi Bali selaku pemangku kepentingan di pulau ini untuk mengurangi bahkan menghilangkan kemacetan yang semakin akut ini, namun hingga saat ini belum ada solusi berarti selain bersabar dan menanti.

2015, tahun baru semoga akan membawa keceriaan baru, harapan baru bagi kita. Dua bulan sudah pemerintahan baru bekerja, kerangka kerjanya sudah terlihat nyata walaupun presiden juga bukan superman dan tentu butuh waktu untuk menikmati hasil pembangunan dan pertumbuhan negara.

Seperti kata Presiden Jokowi, 2015 adalah tahunnya kerja, kerja, dan kerja!!

Oh iya, di penghujung tahun ini mungkin akan ada update blog berseri mengisahkan perjalanan jalan-jalan ke negeri Tiongkok beberapa waktu lalu. Kisah ini akan terbagi dalam beberapa part karena perjalanan itu sendiri terbagi atas 4 kota dan 11 hari. Maaf kalau updatenya sedikit (atau banyak?) terlambat karena faktor waktu dan kesibukan yang menumpuk akhir-akhir ini.

Salam.

Tuesday, 4 June 2013

Ho Chi Minh City: A Traveling Story.. (Part 1 of 3)

Changi Airport Singapore.
Kamis, 9 Mei 2013. Saya dan empat teman lainnya berangkat melalui Bandara Ngurah Rai yang tidak kunjung kelar juga proses renovasinya untuk bertolak menuju Changi Airport di Singapore. Bukannya akan mengunjungi negeri singa itu, tapi kami berlima hanya akan transit selama lima jam untuk selanjutnya mengunjungi Saigon atau yang kini secara resmi telah berganti nama menjadi Ho Chi Minh City, kota terbesar di negara Vietnam. Suatu negara yang belasan lalu pernah diguncang perang hebat dengan negeri adidaya Amerika Serikat. Perang yang penuh unsur politis antara negara liberalisme dengan komunisme. Rasanya terlalu panjang dan pelik untuk diceritakan. Tercatat, nyaris empat juta jiwa rakyat Vietnam menjadi korban dalam salah satu perang paling kejam dalam sejarah umat manusia ini.

Setelah puas berkeliling dan makan siang, announce pun telah memanggil pesawat kami Jetstar 3K557 untuk segera boarding dengan tujuan Ho Chi Minh City.. Here we come, Uncle Ho...

Tan Son Nhat International Airport (SGN).
Mendarat di Tan Son Nhat International Airport, suasana modern begitu terasa di bandara ini segera setelah kami keluar dari garbatara menuju terminal kedatangan bandara. Tidaklah terlalu besar, namun bersih dan teratur. Yang menarik adalah begitu kami melewati konter imigrasi. Wajah petugas imigrasi disini begitu kaku, jutek, tegas, apapun itu namanya namun membuat siapapun menjadi tidak nyaman. Tidak ada satu kata pun terucap dari mereka, pertanyaanpun tidak ada. Tapi tidak sampai 60 detik kemudian, dia segera menyodorkan paspor hijau saya kembali dengan tambahan stempel "VIETNAM for 30 days social visit" Hahaayy..

Kami akhirnya memutuskan untuk menuju hotel yang telah kami pesan sebelumnya via web dengan menggunakan taksi. Usahakanlah untuk selalu menggunakan taksi merek "Vinasun" dan "Mai Linh" selama di Ho Chi Minh City. Reputasi taksi di kota ini yang suka menipu turis dengan harga yang mencekik, lalu suka disasarkan sungguh terkenal namun tidak perlu khawatir karena kedua merek taksi tadi mempunyai reputasi yang bagus seperti Blue Bird Taxi di Indonesia. Yang membuat kami cukup kaget ketika memasukin pusat kota adalah perilaku pengedara sepeda motor disini. Ugal-ugalan, semrawut, dan begitu banyak. Sepertinya Surabaya atau Jakarta saja kalah dalam hal kepadatan sepeda motor. Masalah akan terjadi ketika Anda akan menyeberang disini. Saran saya bagi first-timer, menyeberanglah beramai-ramai bersama turis lain atau warga lokal.

Situasi dekat Ben Tanh Market, Saigon.
Hotel kami yang terletak di Pham Ngu Lao area ternyata seperti tourist area di Saigon. Mengingatkan saya akan Khaosan Road di Bangkok yang begitu ramai itu. Turis berbaur dengan warga lokal, duduk di pinggir jalan menikamti es kopi atau bir Saigon. Itulah gambaran Pham Ngu Lao. Segera setelah menyelesaikan check in, kami sudah tidak sabar untuk mengeksplor district1 kota ini, yang merupakan pusat keramaian dan lokasi wisata Saigon. Karena perut kami yang sudah lapar, tujuan pertama adalah restoran Pho 24, yang terletak di samping Ben Tanh Market.

City Hall Saigon.
Malamnya, kami kembali berkeliling di area Ben Tanh Market. Rupanya, di malam hari terdapat sejenis night market di kiri dan kanan pasar ini. Barang yang ditawarkan sebagian besarnya berupa produk lokal seperti pakaian, souvenir, kopi, makanan dan berbagai barang lainnya yang cocok digunakan untuk oleh-oleh. Ada beberapa tempat makan seafood di sekitar pasar yang cukup menggiurkan. Namun karena alasan kebersihan akhirnya kami mengurungkan niat untuk makan disana dan menuju ke City Hall, bangunan peninggalan kolonial Prancis. Karena bekas jajahannya, budaya Vietnam sangat lekat dipengaruhi oleh Prancis. Mulai dari roti baguette yang mudah ditemui disana, setir kiri, hingga gaya bangunannya. Malam itu setelah puas berkeliling, kami pun mencoba menyantap daging dan calamari bakar sambil menyeruput bir Saigon yang begitu terkenal itu. Semakin malam, area tempat kami menginap semakin ramai dengan live music, suara turis yang bersahutan, dan ketika itulah saatnya mengucapkan Welcome to Saigon...

(to be continued...)

Thursday, 2 May 2013

Jogja & Solo: Sebuah Kisah Yang Tertunda

Sudah lama sekali rasanya sejak trip saya ke Jogja dan Solo (akhir bulan Januari lalu tepatnya) tapi sampai sekarang belum juga sempat menuliskannya di blog ini. Setelah berjuang mengumpulkan serpihan-serpihan cerita itu, akhirnya disinilah saya akan menceritakan kisah liburan ke dua diantara sekian kota indah di Indonesia: Yogyakarta & Solo.

Perjalanan ini dimulai pagi buta, menggunakan pesawat AirAsia rute Denpasar-Yogyakarta pukul 05.50, saya dan seorang teman mendarat di Bandara Adi Sucipto pukul 06.10 WIB, pagi itu suasana bandara masih sangat lengang. Hanya terdapat beberapa petugas bandara dan porter yang kebetulan bertugas pagi. Tidak banyak antrean dimana-mana yang membuat saya sedikit bingung apakah karena masih kepagian atau memang bandara ini tidaklah seramai Ngurah Rai di Bali atau Juanda di Surabaya. Yang pasti saya suka kota ini, bahkan ketika pertama kali mendarat di bandaranya. So, welcome to Gudeg city! :)

Dari bandara, menggunakan taksi kami pun segera menuju Jalan Malioboro, tepatnya lagi di Jalan Dagen untuk menitipkan barang di hotel tempat kami akan menginap nanti malam, Whiz Hotel Dagen. Setelah itu, kami menuju Stasiun Tugu yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Malioboro (remember, Stasiun Tugu tidaklah sama dengan Tugu Yogya.) Setelah membeli tiket kereta Sri Wedari seharga Rp 20.000,- di stasiun, kami pun mencari sarapan untuk mengisi perut yang sudah meronta-ronta sejak pagi (eh ini lapernya ya masih pagi ding!) Selesai sarapan, kami pun menunggu di dalam Stasiun Tugu. Selain karena takut ketinggalan kereta, bingung juga mau jalan-jalan kemana karena di sekitar stasiun hanyalah terdapat toko-toko dan hotel. Suasana di dalam stasiun terasa cukup otentik, walaupun sudah beberapa kali direnovasi namun kesan heritage dan khas Yogya tidak dihilangkan dari stasiun ini.

Kereta Sri Wedari Jogja-Solo
Tidak lama menunggu, kereta berwarna merah terang menyala ini pun datang. Karena merupakan kereta ekspress, tidak ada nomor bangku di tiket yang sudah dibeli sehingga penumpang pun harus rela berebut kursi. bagi yang terlambat atau kurang beruntung, Anda harus menempuh perjalanan ke Solo sekitar 1 jam dengan berdiri. Prinsip 'siapa cepat dia dapat' sangat berlaku di kereta ini.

Tiba di Stasiun Balapan Solo, kami pun segera menuju ke Keraton Solo menggunakan becak. Namun suasana sangat padat pagi itu, karena bertepatan dengan Hari raya Maulud Nabi Muhammad yang memang dirayakan dengan cukup semarak di Jogja dan Solo. Di kedua kota ini terdapat sejenis festival dengan nama Sekaten 2013 yang dipadati oleh warga setempat. Bahkan Jalan Slamet Riyadi yang merupakan salah satu jalan protokol di Kota Solo sudah dipenuhi oleh kerumunan orang sejak pagi. Dan benar saja, semakin mendekati Keraton Surakarta, situasi semakin ramai dan membuat kami menskip tempat ini dan hanya sempat mengintip dari luar saja lalu melanjutkan perjalanan menuju Pasar Klewer.

Bus Werkudara, Solo.
Puas berbelanja beberapa baju batik, kami pun segera menuju Kantor Dishub Surakarta untuk menumpang bus tingkat Werkudara yang akan membawa kami berkeliling Kota Solo. Bus ini merupakan sejenis sightseeing bus atau di luar negeri lebih dikenal dengan nama Hop On - Hop Off Bus. Dalam perjalanannya tidak banyak yang bisa kami lihat dari atas bus karena hujan deras yang turun sejak pertama kali berangkat hingga tengah perjalanan, membuat suara pemandu harus beberapa kali mengeraskan suaranya karena suara hujan. Menurut saya, informasi yang diberikan oleh pemandu tentang Kota Solo kurang 'menjual' dan informatif. Misalnya, pemandu malah lebih sibuk menjelaskan nama-nama hotel, bukannya lebih mengksplor sesuatu yang bersifat lokal seperti Loji Gandrung, kediaman Walikota Solo yang dulu juga pernah ditinggali oleh Jokowi sebelum menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Namun di luar itu, keberadaan bus ini harusnya diapresiasi sebagai salah satu inovasi dalam dunia pariwisata kreatif sebagai satu-satunya sightseeing bus di Indonesia. Bahkan, Yogya dan Bali yang mendaulat dirinya sebagai daerah pariwisata pun belumlah memiliki layanan serupa.

See you on the next chapter: back to Yogya!

Wednesday, 5 December 2012

Let's Get Lost!

Sabtu, 22 September 2012

Subuh baru saja menyapa, dan hari masih begitu pagi ketika taksi dengan logo burung bernuansa biru yang aku tumpangi membelah jalan Teuku Umar Denpasar untuk menuju ke bandara internasional Ngurah Rai. Entah kenapa, ada perasaan senang menyelip setiap kali melihat jalanan ini begitu sepi. Jalanan yang biasanya begitu crowded, macet, ketika kendaraan tumpah ruah di satu-satunya jalan yang menghubungkan wilayah Denpasar, Kuta, Sanur, Jimbaran, dan Nusa Dua ini. Kondisi ini diperparah dengan proyek simpang jalan tak sebidang alias sering disebut dengan underpass simpang siur Dewa Ruci ini. Satu diantara sekian mega proyek untuk menyambut KTT APEC di Bali tahun 2013 nanti.

Suasana Keberangkatan Internasional Bandara Ngurah Rai.
Tak butuh waktu lama, taksi pun telah memasuki pelataran parkir Bandara Ngurah Rai, tempat yang sudah dua tahun belakangan ini selalu setia menjadi saksi dari setiap perjalanan yang aku lakukan. Tampak beberapa calon penumpang pesawat sudah menunggu ketika memasuki areal keberangkatan internasional. Sambil menggenggam pasport dan boarding pass di tangan, aku melewati deretan cafe dan restoran yang baru saja dibuka di areal bandara ini. Suasana masih cukup sepi, membuat perasaan nyaman tidak lekas hilang walaupun Ngurah Rai sudah terkenal sebagai salah satu bandara terburuk di negeri ini.


Let's Get Lost!
Jam telah menunjukkan pukul 04.30 WITA, bandara hanya terisi dengan beberapa penumpang yang akan terbang pagi itu. Aku sudah duduk manis di ruang tunggu keberangkatan bandara Ngurah Rai dengan memandangi jendela, tepat ke arah pesawat berwarna merah yang akan terbang pagi itu. Hampir sejam menunggu, announcement untuk keberangkatan penumpang pesawat AirAsia pun terdengar cukup kencang. Saatnya boarding. I'm ready to get lost for next nine days. And my first destination: Kuala Lumpur, Malaysia.

NB: next chapter, more than Kuala Lumpur!

Sunday, 18 September 2011

Bali Punya Busway: Trans Sarbagita (sebuah catatan)

Denpasar - Setelah hampir satu bulan diresmikan, hari Minggu lalu saya dan beberapa teman barulah memiliki kesempatan untuk menjajal busway di Bali yang diberi nama Trans Sarbagita, merupakan singkatan dari empat kawasan terpadu di Bali yakni Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan. Sebagai informasi, Bali mempunyai sistem angkutan umum yang bisa dikatakan sangat buruk. Tidak ada transportasi bandara khusus di Bali selain taksi tanpa argo yang supirnya galak dan baunya minta ampun. Tidak ada bus kota maupun kereta listrik, angkutan umum berupa bemo hanya menghubungkan pasar dan terminal yang diisi oleh ibu-ibu tua berpakaian ala 80-an. Sungguh ironis sebenarnya keadaan seperti itu bisa terjadi di Denpasar, sebuah kota besar berskala ibukota provinsi, tapi transportasi massalnya jauh tertinggal dibandingkan Malang yang hanya kota tingkat dua.

Bali Punya Busway: Trans Sarbagita
Maka kehadiran busway Trans Sarbagita ini diharapkan banyak oleh warga Bali, mampu mengurai kemacetan yang akhir-akhir ini dirasakan semakin parah. Menurut teman sekantor saya yang orang asli Bali, di pulau ini transportasi umum menjadi minim karena memang warga Bali secara mindset lebih suka untuk mengendarai sepeda motornya sendiri dibandingkan naik kendaraan umum.

Pertama kali naik bus di halte Sanur (seberang KFC Sanur), bus sangat sepi, hanya ada sekitar 4 penumpang lain selain kami (satu diantaranya adalah turis asal Korea). Overall, Trans Sarbagita cukup nyaman. Haltenya juga bersih dan cukup tersebar di sepanjang bypass menuju area Nusa Dua. Harganya pun terjangkau, Rp 3.500 untuk umum dan Rp 2.500 untuk pelajar.

Kondisi Dalam Bus Trans Sarbagita 
Busnya sangat bersih, bahkan masih kinyis-kinyis (dan dingin mampuss!!) yang bentuknya bisa dibilang persis sama dengan Trans Jakarta. Hanya saja, pengoperasian busway di Bali tidak memiliki jalur khusus seperti halnya busway di Jakarta. Sehingga di beberapa tempat seperti di Simpang Siur Dewa Ruci bus sempat terjebak macet di tengah-tengah kendaraan lain. Namun menurut saya pribadi, busway di Bali lebih nyaman apabila dibandingkan dengan kakak kandungnya di Jakarta. Mungkin selain lebih sepi dan busnya masih baru, busway ini melewati tempat-tempat wisata seperti Benoa Square yang berakhir di kawasan Nusa Dua.

Salut deh untuk pemerintah daerah Bali yang sudah susah payah mewujudkan busway di kawasan terpadu Sarbagita. Tentu ini bukan perjuangan yang mudah mengingat sudah sejak lama saya mendengar rencana untuk membangun busway di Surabaya tapi tidak kunjungan terealisasi sampai hari ini. Semoga saja kehadiran Trans Sarbagita dapat mengedukasi masyarakat Bali untuk dapat beralih ke angkutan massal. Salam.

Friday, 22 July 2011

Sebuah Tempat Bernama Bali

Well tidak terasa nyaris enam bulan sudah saya menghabiskan hidup saya di Pulau Dewata ini. Sudah merasakan yang namanya Nyepi di Bali, ngelewatin Galungan dan Kuningan juga, bahkan pernah sampe dipanggil pecalang ke banjar (forget it.. X_X)  Mungkin sekarang, setelah 6 bulan yang panjang dan penuh perjuangan hadepin culture shock ini saya bisa resmi dinyatakan sebagai warga Bali yang taat dan beragama. #eaa

PANAS!! Itu kesan pertama yang saya dapati disini. Bukan hanya di daerah pantai, bahkan di tengah Kota Denpasar pun panasnya bisa ajubilah kalo siang. Gak heran setiap kali ada teman lama yang berkunjung kesini atau ketika ke Surabaya, pasti aja komentar pertamanya kalo saya tambah item. Ya beginilah resiko hidup di pulau yang dikelilingin pantai seperti Bali. =P



DENPASAR
Denpasar merupakan ibukota provinsi yang juga merupakan pusat kehidupan masyarakat kota-kota kecil di Bali seperti Tabanan, Singaraja, Gianyar, hingga Karang Asem. Kalau dibandingkan dengan dua kota tempat saya berlabuh sebelumnya, yakni Surabaya dan Jakarta, tentu Denpasar ibarat kehidupan di dalam tempurung, sepi dan nyaris tidak apa-apa, but much better kalo dibandingin ama kota kelahiran saya, Mataram - Lombok. Jangan berharap akan menemukan mall yang bagus di Denpasar. Memang di sini ada pusat blanja tapi dalam skala yang jauh jauh lebih kecil kalo dibandingin ama Grand Indonesia Jakarta atau Tunjungan Plaza Surabaya.. Bahkan menurut saya mall yang bagus di Bali hanya ada dua yakni Mall Bali Galeria dan Discovery Shopping Mall yang keduanya terletak di area Kabupaten Badung.

Enak sih hidup di Denpasar, kotanya simpel (coz jalannya cuman sekelumit dan itu-itu doank), terus penduduknya itu ramah n jujurrr banget. Beda banget lah ama gaya-gaya preman kayak di Surabaya Utara (Demak, Perak, dan skitarnya). Itu juga mungkin yang membuat Bali terkenal aman. Selain itu warga sini (yang mayoritasnya beragama Hindu) juga amat percaya akan Karmaphala, tapi justru itu bisa menjadi satu hal yang positif dan membuat banyak ekspatriat betah untuk stay di Bali dalam waktu lama.

Anyway ada beberapa hal yang mau saya share tentang Denpasar (dan sekitarnya):
  • Macetnya itu (apalagi kalo jam-jam tertentu) polll astaghfirullah polll.. Jalan dari arah Teuku Umar ke Sunset Road aja bisa ngabisin waktu hampir sejam (padahal kalo gak macet mungkin cuma 15menit). Kemacetan ini kebanyakannya sih disebabin ama galian DSDP (semacem limbah gitu) yang gak slesei-slesei dari jaman dodol.. *ini menurut crita temen saya yg asli Bali lhoo..*
  • Jarangg banget ada yg jualan penyetan ama pecel. Padahal ini menu favorit sejak SMA di Surabaya. 'Duh cek susah'e rek dadi wong suroboyo gak iso mangan penyetan karo pecel nang Bali..' begitu selalu keluh saya dan temen-teman yg juga berasal dari Surabaya. Satu-satunya tempat makan penyetan yang menurut saya paling komprehensif dan lengkap pilihannya disini hanya Penyetan Leko *special thanks to Leko yang selalu sukses jadi obat kangen masakan Surabaya selama di Bali*
  • Pusat belanja yang paling ramai di Denpasar adalah Matahari  Duta Plaza, Tiara Dewata, dan Ramayana Bali Mall. Lumayan sih memang selain ada department store, supermarket, Timezone, juga ada beberapa restoran fastfood seperti McDonald's, KFC, Pizza Hut, CFC, dll.
  • Makanan khas Bali tergolong tasty and spicy. Yang paling populer sih babi guling dan ayam betutu. Kalo untuk babi guling, yang paling enak (dan memang selalu ramai) adalah Babi Guling Candra di Jl. Teuku Umar, Gemah Ripah di belakang Tiara Dewata, lalu babi guling renon di dekat Bundaran Renon. Kalau untuk ayam betutu yang terkenal adalah Ayam Betutu Gilimanuk (di daerah Renon), Ayam Betutu Gatsu, serta ada satu lagi restoran di daerah Gunung Sanghyang, Denpasar.
Sementara itu dulu sharing saya dari Bali, nantikan kabar lainnya dari Denpasar.. ;D

Monday, 11 July 2011

A Part of My Life in Bali (chapter 4 - tamat): Everyday is Holiday

Kehidupan di pulau dewata ini tampaknya sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupanku secara sosial. Banyaknya hari libur lokal di Bali, ditambah angin sepoi-sepoi yang setia bertiup menambah suasana di Pulau yang konon sering dijuluki sebagai "Island of God" ini dapat disebut sebagai pulaunya liburan.. Pada posting kali ini saya akan menulis review tentang tempat asyik di Pulau Bali sekaligus menjadi seri penutup dari A Part of My Life in Bali (chapter 4 - tamat).

"So, everyday is holiday yeah?"

To be honest, spot favorit saya untuk menikmati weekend di pulau ini adalah Kuta. Sebuah area pantai terpadu yang dipenuhi oleh turis baik asing maupun domestik. Turis asing yang rajin menongkrongi pantai ini sebagian besarnya berasal dari Australia dan Jepang. Namun akhir-akhir ini tendensi Kuta sudah semakin menurun pasca lalu lintas yang teramat padat ditambah lagi dengan pembuatan saluran air dan pedestrian disana-sini menambah kesemrawutan area pantai yang tergolong prestisius ini. Lepas dari semua fakta itu, Kuta masih menjadi salah satu magnet bagi wisatawan. Jejeran restaurant dan cafe waralaba internasional seperti Burger King, Domino's Pizza, Häagen-Dazs, Bubba Gump Shrimp Co., Starbucks Coffee, Hard Rock Cafe, Black Canyon Coffee, hingga produk lokal nan laris seperti Oceans 27, Mayang Suki and Pancake, Warung Made's, dan tentu saja Flapjaks yang begitu terkenal itu.

Tidak sabar dengan review lainnya? Nantikan.

Wednesday, 2 March 2011

A Part of My Life in Bali (chapter 1): Seluas Pantai Kuta, Setinggi Pura Tanah Lot.

Akhir-akhir ini saya jadi sering melongok keluar dari jendela kantor untuk melihat kondisi cuaca di langit Bali yang sering tidak menentu. Kebetulan siang ini cuaca sedang sangat bersahabat: cerah terang sampai matahari menembus masuk ke ruang kerja saya di lantai 2 SME Banking. Akhir pekan lalu yang saya habiskan dengan beberapa teman yang datang dari Surabaya, Jawa Timur sempat diwarnasi insiden basah-basahan di sepanjang pedestrian Jalan Kartika Plaza hingga menuju gerbang utama Pantai Kuta yang terletak tidak jauh dari Hard Rock Hotel.

Dreamland Beach, Bali.
Nyaris sebulan hidup di Bali membuat saya semakin mengenal karakteristik masyarakat pulau yang konon disebut-sebut sebagai salah satu surga pariwisata bagi turis asal Australia dan Jepang ini. Tak heran, di sepanjang Kuta Square membentang bahkan hingga ke Dreamland di bagian selatan pulau dewata, banyak turis yang berkunjung. Bahkan beberapa waktu lalu ketika masih di Jakarta saya juga sempat menonton sebuah film yang dibintangi oleh Julia Robert berjudul Eat, Pray, Love yang juga banyak mengekspos keindahan alam serta kebudayaan Pulau Bali.


Ketika saya menceritakan bahwa saya akan segera bekerja di Pulau Bali, banyak teman yang berkomentar 'enaknya' atau 'wah beruntungnya kamu'. Tapi semua komentar-komentar itu hanya akan saya jawab dengan satu jawaban diplomatis 'ah rumput tetangga selalu keliatan lebih indah, ditempatkan dimanapun juga pasti ada enaknya tersendiri..'

Ini masih bulan Maret yang itu artinya masa low season untuk dunia pariwisata pulau dewata, namun saat berlibur ke Pantai Kuta, Legian, dan sekitarnya tidak ada hentinya saya melihat para melancong yang sedang memilih souvenir di Kuta Art Market, Joger, maupun sekedar mampir membeli minuman di Circle-K maupun Minimart yang tersebar di sepanjang Jalan Raya Kuta hingga Gang Poppies yang kini dipenuhi banyak rental kendaraan, penginapan, hingga massage itu.

Melihat geliat pariwisata pulau yang disebut-sebut sebagai The Island of God ini, maka ketika orang-orang bertanya pada saya, "Sampai dimana peluang pertumbuhan ekonomi di Bali apabila hanya ditunjang oleh pariwisata saja?" Jawaban saya adalah: "Seluas Pantai Kuta dan setinggi Pura Tanah Lot." Salam.
(bersambung ke: A Part of My Life in Bali - chapter 2)