Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Saturday, 29 August 2015

Tempat Wajib Dikunjungi di Yogyakarta dan Sekitarnya

Apabila Anda mengunjungi Kota Yogyakarta, sayang kalo gak mengunjungi tempat-tempat yang menarik dan terkenal dari kota budaya nan istimewa ini. Berikut adalah tempat yang wajib dikunjungi di kawasan Yogyakarta dan sekitarnya versi @agung_putrajoyo :











1. Candi Prambanan
Candi Prambanan merupakan kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia yang dibangun sejak abad ke-9 Masehi. Disebut-sebut sebagai salah satu peninggalan candi terindah di Asia Tenggara serta nilai historis yang dikandungnya, maka tak heran apabila candi ini diresmikan sebagai salah satu Situs Warisan Dunia UNESCO.

Candi Prambanan bisa diakses dengan bus Trans Jogja line 1A, 1B, dan 3A. Apabila Anda stay di Malioboro area, bus 1A dapat diakses dari halte Malioboro 1 (Jalan Sosrowijayan dan sekitarnya), Malioboro 2 (Jalan Dagen dan sekitarnya), maupun Malioboro 3 (Pasar Beringharjo, Benteng Vredeburg, dll).


2. Malioboro Area
Belum lengkap rasanya ke Yogyakarta kalau belum mengunjungi jalanan legendaris ini. Mulai dari pemusik jalanan, food-stall, toko batik, hingga pusat oleh-oleh ada disini. Bagi yang mau stay di wilayah ini, di Jl. Maliboro begitu banyak terdapat pilihan hotel mulai dari hotel melati hingga hotel berbintang. Namun untuk harga yang lebih terjangkau, cobalah untuk eksplor kawasan Jl. Dagen dan Jl. Sosrowijayan yang dapat dicapai hanya sekitar 10 menit berjalan kaki dari Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta atau halte TransJogja shelter Malioboro. Saat malam hari, jangan lupa untuk mengunjungi Mirota Batik, sebuah supermarket lengkap yang menjajakan segala barang khas Jogja mulai dari batik, kain, hingga pajangan dan benda antik lainnya.

3.  Candi Borobudur
Terletak di kawasan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Candi Borobudur didirikan sekitar tahun 800-an Masehi pada masa pemerintahan wangsa Syailendra. Borobudur adalah candi atau kuil Buddha terbesar di dunia, sekaligus salah satu monumen Buddha terbesar di dunia. Atas upaya besar dari pemerintah Indonesia pada kurun waktu 1975 - 1982 untuk merevitalisasi kawasan Candi Borobudur, UNESCO meresmikannya sebagai salah satu Situs Warisan Dunia pada tahun 1991.

Apabila Anda mengunjungi Jogja namun tidak menyewa kendaraan pribadi untuk berkeliling, jangan khawatir tidak dapat ikut menikmati keindahan Candi Borobudur yang terletak sekitar 40 kilometer arah barat laut Yogyakarta ini. Borobudur dapat juga diakses menggunakan kendaraan umum berupa bus yang dapat Anda capai dari Terminal Jombor. Untuk menuju Terminal ini, Anda dapat menggunakan TransJogja line 2A dan 2B. Caranya sangat mudah, yang Anda perlu lakukan hanyalah banyak bertanya pada petugas atau kondektur TransJogja. Umumnya mereka sangatlah helpful dan ramah apabila ditanya-tanya oleh wisatawan. Jangan lupa untuk selalu tersenyum karena Jogja adalah kota yang ramah bagi siapapun. Untuk Anda yang ingin tahu lebih detail tentang cara naik bus umum ke Borobudur ini, baca juga posting saya sebelumnya disini.


4. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Merupakan istana resmi dari Kesultanan Ngayogyakarta Hadiningrat yang kini berlokasi di Kota Yogyakarta. Walaupun kesultanan tersebut secara resmi telah menjadi bagian Republik Indonesia pada tahun 1950, kompleks bangunan keraton ini juga masih berfungsi sebagai tempat tinggal sultan dan rumah tangga istananya yang terus menjalankan tradisi kesultanan hingga saat ini. Keraton kini juga menjadi salah satu objek wisata di Kota Yogyakarta.
 

5. Pasar Beringharjo
Selain nilai historisnya yang tidak dapat dipisahkan dengan Keraton Yogyakarta, Pasar Beringharjo merupakan tempat yang lengkap untuk berbelanja kain batik, pakaian, jajanan pasar, hingga barang antik. Buka mulai pukul 09.00 - 16.00, pasar yang setiap hari selalu ramai oleh wisatawan maupun warga lokal ini tidak dapat dilewatkan apabila Anda mengunjungi Yogyakarta. Siapkan kemampuan tawar-menawar yang baik untuk mendapatkan harga termurah di pasar ini dan dijamin senyum akan mengembang ketika Anda keluar dari pasar ini. (Halte TransJogja: Malioboro 3).

6. Museum Benteng Vredeburg
Terletak hanya selemparan batu dari Pasar Beringharjo, Museum Benteng Vredeburg dapat dinikmati dengan biaya tiket masuk hanya Rp 2.000,-. Setelah seharian berjalan kaki menikmati Keraton, kemudian berbelanja di Pasar Beringharjo, museum ini merupakan tempat yang sangatlah tepat untuk berlindung dari panasnya siang di Jogja mengingat ruangannya yang full AC serta penuh dengan diorama yang sangatlah informatif, edukatif, serta cukup entertaining. (Halte TransJogja: Malioboro 3).

7. House of Raminten
Memiliki 3 buah cabang di Kota Yogyakarta, namun yang paling ramai dan banyak dikunjungi adalah di Jalan FM Noto no 7 Kotabaru. Tempat ini sedikit berkesan mistis, namun janganlah khawatir karena makanan yang disajikan cukup lezat dan nuansa Jawa yang kental membuat kunjungan Anda kesini pastilah akan berkesan.

8. Bakmi Kadin dan Bakmi Pele
Keduanya memiliki kesamaan, yakni bakmi khas Jawa yang mempunyai aroma spesial karena dimasak di atas tungku dan arang sehingga menimbulkan cita rasa yang tidak ada dimanapun. Bagi Anda yang hanya memiliki waktu sedikit, saran saya kunjungilah Bakmi Kadin, karena antrian di Bakmi Pele biasanya cukup panjang dan bisa mencapai 60 - 120 menit dari waktu pesan hingga hidangan siap. Namun apabila Anda memiliki waktu yang panjang, cobalah Bakmi Pele. Sambil menunggu pesanan, Anda dapat berjalan-jalan di sekitar alun-alun utara Jogja.

Demikianlah ringkasan tempat wisata serta kuliner yang wajib Anda kunjungi di Kota Yogyakarta dan sekitarnya, semoga selalu menginspirasi Anda semua untuk berwisata dalam negeri. Salam traveler!!


Saturday, 20 December 2014

Harinya Hari Raya

Bali, Desember 2014. Waktu akhir-akhir ini seakan penuh dengan berbagai perayaan. 17 Desember lalu, umat Hindu di seluruh Indonesia merayakan hari raya Galungan. Beberapa hari lagi, seluruh umat Nasrani juga akan memperingati Natal sebagai momentum kelahiran Yesus Kristus. Dan tentunya puncak perayaan bulan ini akan tumpah ruah pada Tahun Baru 2015.

Sebagai warga Bali, ada kemacetan tidak biasa yang kembali terulang dari tahun ke tahun setiap momen peak-season seperti Lebaran atau Tahun Baru tiba. Sudah banyak diskusi dari pihak pemerintah provinsi Bali selaku pemangku kepentingan di pulau ini untuk mengurangi bahkan menghilangkan kemacetan yang semakin akut ini, namun hingga saat ini belum ada solusi berarti selain bersabar dan menanti.

2015, tahun baru semoga akan membawa keceriaan baru, harapan baru bagi kita. Dua bulan sudah pemerintahan baru bekerja, kerangka kerjanya sudah terlihat nyata walaupun presiden juga bukan superman dan tentu butuh waktu untuk menikmati hasil pembangunan dan pertumbuhan negara.

Seperti kata Presiden Jokowi, 2015 adalah tahunnya kerja, kerja, dan kerja!!

Oh iya, di penghujung tahun ini mungkin akan ada update blog berseri mengisahkan perjalanan jalan-jalan ke negeri Tiongkok beberapa waktu lalu. Kisah ini akan terbagi dalam beberapa part karena perjalanan itu sendiri terbagi atas 4 kota dan 11 hari. Maaf kalau updatenya sedikit (atau banyak?) terlambat karena faktor waktu dan kesibukan yang menumpuk akhir-akhir ini.

Salam.

Wednesday, 11 September 2013

Ho Chi Minh City: Cao Dai Temple & Cu Chi Tunnels (Part 2 of 3)

Selalu terselip perasaan senang tiap kali terbangun di kota yang baru. Hari ini kota itu adalah Ho Chi Minh City, kota terbesar di Vietnam, sebuah negara yang belasan tahun lalu pernah luluh lantak oleh perang. Hari ini, HCMC telah menjadi kota berkembang yang sangat indah dengan tata kota khas kolonial Prancis. Masyarakatnya begitu ramah dan optimis untuk terus maju menjadi salah satu kota besar di Asia Tenggara. Rencana perjalanan hari ini adalah mengikuti city tour untuk mengunjungi Cao Dai Temple dan Cu Chi Tunnels. Walaupun secara pribadi saya tidak terlalu suka mengikuti tour yang sifatnya "terjadwal" seperti ini, namun pilihan akhirnya jatuh ke tour local karena selain mempertimbangkan kedua objek wisata yang letaknya cukup jauh dari dalam kota Ho Chi Minh serta public transport disana masih belum terlalu bagus apabila dibandingkan dengan kota maju di Asia lainnya. Selain itu, harga tour local ini pun terbilang murah, yakni hanya 185.000 VND (Vietnam Dong) atau sekitar Rp 90.000 untuk tour seharian dengan bus ber-AC dan guide berbahasa Inggris! DAMN I Love HCMC! Hahaha..

Pemberhentian pertama tour ini adalah Cao Dai Temple yang terletak di Kota Tay Ninh. Sejenis kuil tempat ibadah aliran Cao Dai, dimana di kuil ini lima agama yakni Konghucu, Buddha, Islam, Katolik, dan Taoisme beribadah bersama-sama dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa. Alirannya yang dinamakan Caodaism mempunyai penganut sekitar dua juta jiwa yang tersebar di seluruh Vietnam hingga ke Prancis. Saya pernah melihat kuil sejenis di daerah Nusa Dua, Bali. Namun kuil yang terletak di Vietnam ini jauh lebih indah dan khusuk. Rasanya tidak ada batasan rasa iri, sirik, apalagi saling curiga antar umat beragama disini. Sesuatu yang sangat harus dicontoh oleh bangsa kita sendiri, dimana isu tentang agama sering menjadi isu yang paling mudah "dijual" dan tersulut.

Selanjutnya rombongan diajak untuk mengunjungi sejenis pusat kesenian Handycraft. Awalnya saya sempat sedikit malas mengunjungi "tempat wajib berhenti" apabila ikut tour seperti ini. Namun setelah masuk, rupanya ini adalah pusat kerajinan khusus bagi para korban Perang Vietnam. Jadi para pengrajinnya sebagian besar adalah orang berkebutuhan khusus. Sungguh senang rasanya melihat optimisme di wajah mereka dengan segala keterbatasan yang mereka miliki tidak membuatnya menjadi pesimis, malas-malasan apalagi berpikir untuk berbuat kriminal malah menjadikan mereka terpacu untuk semakin rajin dan berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi banyak orang. Hasil penjualan dari pusat kesenian ini juga akan disumbangkan untuk yayasan khusus yang menaungi korban perang Vietnam tersebut.




Seorang bule mencoba lubang yang sudah dimodifikasi
Setelah makan siang, akhirnya kita mengunjungi Cu Chi Tunnels yang dulunya merupakan pusat persembunyian tentara Vietnam saat mereka diserang oleh Amerika Serikat. Terowongan ini sengaja dibuat pendek dan kecil, sesuai dengan postur tubuh rakyat Vietnam sehingga serdadu AS tidak dapat masuk ke dalamnya. Selain untuk tempat persembunyian, terowongan ini ibarat sebuah "kota". Dimana terdapat juga dapur umum, pusat pengobatan, tempat tidur, dll. Saat pagi tiba, dimana embun masih menutupi wilayah ini, para wanita akan masak untuk seharian sehingga asap dari masakan tersebut akan bersatu dengan embun dan tidak terlihat oleh pesawat tentara Amerika. Konon katanya Cu Chi Tunnels ini membuat tentara Amerika cukup frustasi karena selain terowongonnya yang sangat sempit, sebagiannya juga dilengkapi dengan jebakan di tengah hutan sehingga banyak tentara AS yang jatuh korban di tempat ini.

Water Puppet Show di Ho Chi Minh City
Setelah puas berkeliling di Cu Chi Tunnel, kami kembali ke Ho Chi Minh City. Dalam perjalanan pulang, kami minta ke guide untuk diturunkan di Water Puppet Show, sebuah pertunjukan dari sejenis wayang namun dimainkan di atas air yang sangat lucu dan menghibur. Dengan pertunjukan yang di atas air seperti ini, otomatis seluruh pemainnya berada di belakang panggung dan mereka sudah sangat menguasai gerakan yang ditampilkan. Benar-benar membuat penonton kagum.



 
Kem Bach Dang Ice Cream
Malamnya, kami menyempatkan diri untuk kembali mengeksplor Distrik 1 yang memang merupakan pusat keramaian kota Saigon. Setelah makan malam di Pho 2000, atau yang biasa disebut dengan Pho for President karena di tempat inilah dahulu Presiden Amerika Serikat, Bill Clinton pernah menikmati semangkok Pho bersama Presiden Vietnam yang merupakan kunjungan pertama presiden Amerika pasca Perang Vietnam yang menjadi tonggak sejarah awal normalisasi hubungan antar kedua negara pasca kejadian tragis tersebut. Setelah itu, agenda shopping di pasar malam Ben Tanh tidak dapat dilewatkan. Menutup hari kedua, kamipun mencoba Kem Bach Dang, sebuah ice cream shop yang terkenal dengan es krim di dalam batok kelapanya. Rasanya sungguh nikmat! Saat akan kembali ke hotel, kami pun melihat Trung Nguyen Coffee yang sangat tersohor itu. Oh iya, di seluruh negara Vietnam, hanya terdapat satu buah store Starbucks Coffee (di dekat New World Hotel). Konon katanya brand cafe internasional asal Amerika ini kalah total oleh Trung Nguyen yang sudah mempunyai puluhan outlet di Vietnam. Kopi asal Vietnam memang terkenal dengan rasanya yang luar biasa nikmat. Melihat jam yang masih belum terlalu malam, kami pun menjadi saksi kenikmatan kopi Vietnam malam itu.. Chúc ngũ ngon Saigon! (Selamat malam Saigon!)

Tuesday, 4 June 2013

Ho Chi Minh City: A Traveling Story.. (Part 1 of 3)

Changi Airport Singapore.
Kamis, 9 Mei 2013. Saya dan empat teman lainnya berangkat melalui Bandara Ngurah Rai yang tidak kunjung kelar juga proses renovasinya untuk bertolak menuju Changi Airport di Singapore. Bukannya akan mengunjungi negeri singa itu, tapi kami berlima hanya akan transit selama lima jam untuk selanjutnya mengunjungi Saigon atau yang kini secara resmi telah berganti nama menjadi Ho Chi Minh City, kota terbesar di negara Vietnam. Suatu negara yang belasan lalu pernah diguncang perang hebat dengan negeri adidaya Amerika Serikat. Perang yang penuh unsur politis antara negara liberalisme dengan komunisme. Rasanya terlalu panjang dan pelik untuk diceritakan. Tercatat, nyaris empat juta jiwa rakyat Vietnam menjadi korban dalam salah satu perang paling kejam dalam sejarah umat manusia ini.

Setelah puas berkeliling dan makan siang, announce pun telah memanggil pesawat kami Jetstar 3K557 untuk segera boarding dengan tujuan Ho Chi Minh City.. Here we come, Uncle Ho...

Tan Son Nhat International Airport (SGN).
Mendarat di Tan Son Nhat International Airport, suasana modern begitu terasa di bandara ini segera setelah kami keluar dari garbatara menuju terminal kedatangan bandara. Tidaklah terlalu besar, namun bersih dan teratur. Yang menarik adalah begitu kami melewati konter imigrasi. Wajah petugas imigrasi disini begitu kaku, jutek, tegas, apapun itu namanya namun membuat siapapun menjadi tidak nyaman. Tidak ada satu kata pun terucap dari mereka, pertanyaanpun tidak ada. Tapi tidak sampai 60 detik kemudian, dia segera menyodorkan paspor hijau saya kembali dengan tambahan stempel "VIETNAM for 30 days social visit" Hahaayy..

Kami akhirnya memutuskan untuk menuju hotel yang telah kami pesan sebelumnya via web dengan menggunakan taksi. Usahakanlah untuk selalu menggunakan taksi merek "Vinasun" dan "Mai Linh" selama di Ho Chi Minh City. Reputasi taksi di kota ini yang suka menipu turis dengan harga yang mencekik, lalu suka disasarkan sungguh terkenal namun tidak perlu khawatir karena kedua merek taksi tadi mempunyai reputasi yang bagus seperti Blue Bird Taxi di Indonesia. Yang membuat kami cukup kaget ketika memasukin pusat kota adalah perilaku pengedara sepeda motor disini. Ugal-ugalan, semrawut, dan begitu banyak. Sepertinya Surabaya atau Jakarta saja kalah dalam hal kepadatan sepeda motor. Masalah akan terjadi ketika Anda akan menyeberang disini. Saran saya bagi first-timer, menyeberanglah beramai-ramai bersama turis lain atau warga lokal.

Situasi dekat Ben Tanh Market, Saigon.
Hotel kami yang terletak di Pham Ngu Lao area ternyata seperti tourist area di Saigon. Mengingatkan saya akan Khaosan Road di Bangkok yang begitu ramai itu. Turis berbaur dengan warga lokal, duduk di pinggir jalan menikamti es kopi atau bir Saigon. Itulah gambaran Pham Ngu Lao. Segera setelah menyelesaikan check in, kami sudah tidak sabar untuk mengeksplor district1 kota ini, yang merupakan pusat keramaian dan lokasi wisata Saigon. Karena perut kami yang sudah lapar, tujuan pertama adalah restoran Pho 24, yang terletak di samping Ben Tanh Market.

City Hall Saigon.
Malamnya, kami kembali berkeliling di area Ben Tanh Market. Rupanya, di malam hari terdapat sejenis night market di kiri dan kanan pasar ini. Barang yang ditawarkan sebagian besarnya berupa produk lokal seperti pakaian, souvenir, kopi, makanan dan berbagai barang lainnya yang cocok digunakan untuk oleh-oleh. Ada beberapa tempat makan seafood di sekitar pasar yang cukup menggiurkan. Namun karena alasan kebersihan akhirnya kami mengurungkan niat untuk makan disana dan menuju ke City Hall, bangunan peninggalan kolonial Prancis. Karena bekas jajahannya, budaya Vietnam sangat lekat dipengaruhi oleh Prancis. Mulai dari roti baguette yang mudah ditemui disana, setir kiri, hingga gaya bangunannya. Malam itu setelah puas berkeliling, kami pun mencoba menyantap daging dan calamari bakar sambil menyeruput bir Saigon yang begitu terkenal itu. Semakin malam, area tempat kami menginap semakin ramai dengan live music, suara turis yang bersahutan, dan ketika itulah saatnya mengucapkan Welcome to Saigon...

(to be continued...)

Sunday, 19 May 2013

Malioboro, Borobudur, dan Trans Jogja

Hari kedua di Jogja selain Malioboro juga akan diisi dengan wisata candi. Apalagi kalau bukan Borobudur dan Prambanan, keduanya sangat indah dan yang paling penting keduanya merupakan peninggalan bersejarah karya anak bangsa -yang sayangnya- terkesan kurang diperhatikan oleh pemerintah akan pengelolaan dan perawatannya.

Setelah puas menyantap breakfast di Hotel Whiz Jalan Dagen (Malioboro area) berupa Gudeg Yu Djum, perjalanan pun dimulai dengan menaiki Trans Jogja rute 2A di Halte Malioboro lalu berhenti di Terminal Jombor. Sempat ada ganti halte sekali (saya lupa nama haltenya) tapi ini bisa ditanyakan kepada petugas Trans Jogja di halte maupun di dalam bus. Secara umum para petugas bus sangatlah ramah dan informatif tentang tujuan dan objek wisata di Yogyakarta. Dari terminal Jombor, naiklah bus jurusan Borobudur (sekitar 1 jam arah Magelang dan ongkosnya 10 ribu). Turunlah di pemberhentian terakhir (tanyakan kepada kondektur di atas bus). Ingatlah bahwa ini adalah bus non-AC, namun mengingat udara di Jogja tidak sepanas di Bali maupun Surabaya rasanya ini tidaklah masalah). Dari terminal terakhir ini, bisa naik andong atau becak ke candinya (biasanya kusir akan menawarkan paket ke tiga candi yang akan membuat Anda bingung karena disitu juga ada Candi Mendut, jadi sebaiknya langsung saja bilang kalau mau ke Candi Borobudur) ongkos sekitar 10-15 ribu (ingat rajin nawar).

Tiket masuk candi harganya 30ribu, dan kompleks candi ini dibuka mulai pukul 6 pagi. Saran saya kalau Anda tidak mau berpanas-panasan dan berjubel dengan turis lain, datanglah pagi hari ketika kompleks candi masih sepi. Setelah masuk, Anda akan ditawari untuk naik kereta untuk mendekati candi. Saran saya naiklah kereta ini, selain tarifnya hanya 10ribu juga ada free air minum botol dan jarak ke candi ternyata lumayan jauh apabila berjalan kaki, lumayan ngirit tenaga terutama bagi Anda yang punya jadwal yang masih cukup padat. Bagi yang mau membeli barang dan oleh-oleh harga di dalam kompleks candi ini termasuk murah dan lebih rasional dibandingkan dengan penjual di pinggir jalan Malioboro (jangan lupa rajin nawar).

Setelah keluar dari Candi Borobudur, kami kembali ke Kota Jogja. Tujuan berikutnya adalah Candi Prambanan. Rute kesini adalah seharusnya kemarin sore sekembalinya dari Solo. Namun karena hujan deras yang tak kunjung berhenti, akhirnya rute Candi Prambanan harus dimasukkan ke hari kedua. Turun di Halte Prambanan, harga tiket masuk ke kompleks candi juga 30ribu. Rupanya karena gempa yang menimpa Jogja pada 2010 silam, saat ini Candi Prambanan cukup rusak parah. Proyek konstruksi ulang dan perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah masih belum dapat menyentuh seluruh sisi candi yang begitu bersejarah ini. Sedih rasanya melihat peninggalan sejarah harus retak-retak dan terkesan diabaikan oleh pemerintah Indonesia.

Sekembalinya dari Candi Prambanan, hari sudah hampir sore ketika kami menaiki Trans Jogja dan turun di Halte Malioboro 2 yang berada dekat dengan Jalan Dagen. Karena seharian sudah berkeliling dan menikmati keindahan candi, malamnya kami mengunjungi Plaza Ambarukmo Jogja yang konon merupakan salah satu mall terbesar di kota ini. Dan benar saja, malam itu suasana cukup ramai. Setelah berkeliling dan mencoba beberapa cakes, kami akhirnya kembali lagi ke Malioboro untuk menikmati suasana khas Jogja. Di dekat Mal Malioboro kami mencoba Artemi Ice Cream yang cukup terkenal dan memang benar bahwa rasanya sangat nikmat dan dapat dicoba.

Thursday, 2 May 2013

Jogja & Solo: Sebuah Kisah Yang Tertunda

Sudah lama sekali rasanya sejak trip saya ke Jogja dan Solo (akhir bulan Januari lalu tepatnya) tapi sampai sekarang belum juga sempat menuliskannya di blog ini. Setelah berjuang mengumpulkan serpihan-serpihan cerita itu, akhirnya disinilah saya akan menceritakan kisah liburan ke dua diantara sekian kota indah di Indonesia: Yogyakarta & Solo.

Perjalanan ini dimulai pagi buta, menggunakan pesawat AirAsia rute Denpasar-Yogyakarta pukul 05.50, saya dan seorang teman mendarat di Bandara Adi Sucipto pukul 06.10 WIB, pagi itu suasana bandara masih sangat lengang. Hanya terdapat beberapa petugas bandara dan porter yang kebetulan bertugas pagi. Tidak banyak antrean dimana-mana yang membuat saya sedikit bingung apakah karena masih kepagian atau memang bandara ini tidaklah seramai Ngurah Rai di Bali atau Juanda di Surabaya. Yang pasti saya suka kota ini, bahkan ketika pertama kali mendarat di bandaranya. So, welcome to Gudeg city! :)

Dari bandara, menggunakan taksi kami pun segera menuju Jalan Malioboro, tepatnya lagi di Jalan Dagen untuk menitipkan barang di hotel tempat kami akan menginap nanti malam, Whiz Hotel Dagen. Setelah itu, kami menuju Stasiun Tugu yang dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Malioboro (remember, Stasiun Tugu tidaklah sama dengan Tugu Yogya.) Setelah membeli tiket kereta Sri Wedari seharga Rp 20.000,- di stasiun, kami pun mencari sarapan untuk mengisi perut yang sudah meronta-ronta sejak pagi (eh ini lapernya ya masih pagi ding!) Selesai sarapan, kami pun menunggu di dalam Stasiun Tugu. Selain karena takut ketinggalan kereta, bingung juga mau jalan-jalan kemana karena di sekitar stasiun hanyalah terdapat toko-toko dan hotel. Suasana di dalam stasiun terasa cukup otentik, walaupun sudah beberapa kali direnovasi namun kesan heritage dan khas Yogya tidak dihilangkan dari stasiun ini.

Kereta Sri Wedari Jogja-Solo
Tidak lama menunggu, kereta berwarna merah terang menyala ini pun datang. Karena merupakan kereta ekspress, tidak ada nomor bangku di tiket yang sudah dibeli sehingga penumpang pun harus rela berebut kursi. bagi yang terlambat atau kurang beruntung, Anda harus menempuh perjalanan ke Solo sekitar 1 jam dengan berdiri. Prinsip 'siapa cepat dia dapat' sangat berlaku di kereta ini.

Tiba di Stasiun Balapan Solo, kami pun segera menuju ke Keraton Solo menggunakan becak. Namun suasana sangat padat pagi itu, karena bertepatan dengan Hari raya Maulud Nabi Muhammad yang memang dirayakan dengan cukup semarak di Jogja dan Solo. Di kedua kota ini terdapat sejenis festival dengan nama Sekaten 2013 yang dipadati oleh warga setempat. Bahkan Jalan Slamet Riyadi yang merupakan salah satu jalan protokol di Kota Solo sudah dipenuhi oleh kerumunan orang sejak pagi. Dan benar saja, semakin mendekati Keraton Surakarta, situasi semakin ramai dan membuat kami menskip tempat ini dan hanya sempat mengintip dari luar saja lalu melanjutkan perjalanan menuju Pasar Klewer.

Bus Werkudara, Solo.
Puas berbelanja beberapa baju batik, kami pun segera menuju Kantor Dishub Surakarta untuk menumpang bus tingkat Werkudara yang akan membawa kami berkeliling Kota Solo. Bus ini merupakan sejenis sightseeing bus atau di luar negeri lebih dikenal dengan nama Hop On - Hop Off Bus. Dalam perjalanannya tidak banyak yang bisa kami lihat dari atas bus karena hujan deras yang turun sejak pertama kali berangkat hingga tengah perjalanan, membuat suara pemandu harus beberapa kali mengeraskan suaranya karena suara hujan. Menurut saya, informasi yang diberikan oleh pemandu tentang Kota Solo kurang 'menjual' dan informatif. Misalnya, pemandu malah lebih sibuk menjelaskan nama-nama hotel, bukannya lebih mengksplor sesuatu yang bersifat lokal seperti Loji Gandrung, kediaman Walikota Solo yang dulu juga pernah ditinggali oleh Jokowi sebelum menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Namun di luar itu, keberadaan bus ini harusnya diapresiasi sebagai salah satu inovasi dalam dunia pariwisata kreatif sebagai satu-satunya sightseeing bus di Indonesia. Bahkan, Yogya dan Bali yang mendaulat dirinya sebagai daerah pariwisata pun belumlah memiliki layanan serupa.

See you on the next chapter: back to Yogya!

Thursday, 31 January 2013

Traveling Itu Menular! (Sebuah Tips Traveling)

Gunung Merapi di balik pesawat menuju Yogyakarta.
Percaya atau tidak, traveling itu menular lo. Bagaimana tidak, beberapa hari ini sejak kembali dari Yogyakarta, saya aktif memposting foto-foto selama liburan saya di Instagram dan mengundang begitu banyak komentar melalui mention di twitter. "Jadi pengen liburan ke Jogja", begitu rata-rata komentar yang masuk, di samping pembicaraan di sela-sela jam makan siang di kantor yang menanyakan naik apa ke Jogja, disana kemana saja, berapa kira-kira budgetnya, menginap dimana dan segelintir pertanyaan antusias lainnya.

Di posting setelah ini saya akan berbagi kisah traveling ke Jogja dan Solo minggu lalu, tapi kali ini saya akan berbagi tentang tips traveling agar lebih mengena di hati, cekidot!!

1. Buatlah perencanaan jauh-jauh hari
Karena selain akan mendapatkan harga tiket pesawat yang lebih terjangkau, kita juga bisa mulai membuat planning cuti di hari kejepit yang tentunya membuat cuti kita tidak cepat habis. Coba cek promo di beberapa maskapai penerbangan yang memang sekarang sering perang harga seperti AirAsia, Tiger Mandala, JetStar, hingga Citilink. Kalau tidak mau ketinggalan promonya, langganan saja promo mereka dengan memasukkan alamat email ke situs penerbangan yang bersangkutan. Simpel kok!

2. Carilah hotel/penginapan di lokasi utama
Kalau pergi ke Bali menginaplah di Kuta, kalau pergi ke Kuala Lumpur menginaplah di Bukit Bintang. Begitulah kira-kira. Karena selain mudah untuk mendapatkan makanan, kita juga tidak perlu mengeluarkan biaya transportasi tambahan kalau akan mengunjungi tempat-tempat ini. Tinggal turun ke lobi hotel dan berbelok sedikit, kita sudah akan menikmati suasana khas dari sebuah kota itu. Bayangkan saja kalau Anda liburan ke Bali dan harus menghadapi macetnya jalanan setiap kali Anda mau ke Kuta. Woghh!

3. Jangan ragu bertanya dan mengumpulkan informasi
Khususnya bagi tipe budget ato backpacker traveler, kaya akan informasi dari sebuah tempat yang mau dikunjungi itu sifatnya kudu dan wajib. Informasi dan pengetahuan adalah bekal utama untuk "menaklukkan" sebuah tempat. Saat ini berbagai situs jejaring sosial dan traveling seperti TripAdvisor, Lonely Planet, Foursquare, sudah menyediakan informasi menarik terkait sebuah tempat. Jangan sampai minimnya informasi hanya akan membuat waktu traveling banyak terbuang oleh tersasar dan bertanya jalan.

Okey, sekian dulu tipsnya. Jadi tunggu apalagi let's go traveling and breeze away! :)

"Worrying gets you nowhere" (Anonimous)

Wednesday, 5 December 2012

Let's Get Lost!

Sabtu, 22 September 2012

Subuh baru saja menyapa, dan hari masih begitu pagi ketika taksi dengan logo burung bernuansa biru yang aku tumpangi membelah jalan Teuku Umar Denpasar untuk menuju ke bandara internasional Ngurah Rai. Entah kenapa, ada perasaan senang menyelip setiap kali melihat jalanan ini begitu sepi. Jalanan yang biasanya begitu crowded, macet, ketika kendaraan tumpah ruah di satu-satunya jalan yang menghubungkan wilayah Denpasar, Kuta, Sanur, Jimbaran, dan Nusa Dua ini. Kondisi ini diperparah dengan proyek simpang jalan tak sebidang alias sering disebut dengan underpass simpang siur Dewa Ruci ini. Satu diantara sekian mega proyek untuk menyambut KTT APEC di Bali tahun 2013 nanti.

Suasana Keberangkatan Internasional Bandara Ngurah Rai.
Tak butuh waktu lama, taksi pun telah memasuki pelataran parkir Bandara Ngurah Rai, tempat yang sudah dua tahun belakangan ini selalu setia menjadi saksi dari setiap perjalanan yang aku lakukan. Tampak beberapa calon penumpang pesawat sudah menunggu ketika memasuki areal keberangkatan internasional. Sambil menggenggam pasport dan boarding pass di tangan, aku melewati deretan cafe dan restoran yang baru saja dibuka di areal bandara ini. Suasana masih cukup sepi, membuat perasaan nyaman tidak lekas hilang walaupun Ngurah Rai sudah terkenal sebagai salah satu bandara terburuk di negeri ini.


Let's Get Lost!
Jam telah menunjukkan pukul 04.30 WITA, bandara hanya terisi dengan beberapa penumpang yang akan terbang pagi itu. Aku sudah duduk manis di ruang tunggu keberangkatan bandara Ngurah Rai dengan memandangi jendela, tepat ke arah pesawat berwarna merah yang akan terbang pagi itu. Hampir sejam menunggu, announcement untuk keberangkatan penumpang pesawat AirAsia pun terdengar cukup kencang. Saatnya boarding. I'm ready to get lost for next nine days. And my first destination: Kuala Lumpur, Malaysia.

NB: next chapter, more than Kuala Lumpur!

Friday, 1 June 2012

Singa, Mana Singa?

Datang dari Indonesia dan sempat merasakan suasana Malaysia selama dua hari, membuat Singapura serasa menjadi kota yang teramat modern. Singapore atau Republik Singapura merupakan negara kota yang terletak di lepas ujung selatan Semenanjung Malaya. Jumlah penduduknya melebihi 5 juta jiwa namun hampir setengahnya merupakan orang asing yang bekerja dan menuntut ilmu di sana. Luas negara Singapore adalah 694 km2 atau tidak lebih luas dari Ibukota Jakarta. Namun selain sebagai pusat keuangan terdepan keempat di dunia, Singapura juga merupakan kota kosmopolitan berkelas dunia yang memainkan peran penting dalam berbagai sektor industri, perdagangan dan keuangan internasional. Pelabuhan Singapura merupakan pelabuhan tersibuk kelima di dunia yang menopang posisinya sebagai negara dengan pendapatan per kapita terbesar ketiga di dunia.

Moda transportasi massal yang sudah begitu berkembang membuat Kota Singa ini menjadi salah satu favorit traveler dari seluruh dunia untuk terus mengunjunginya. MRT, bus kota, hingga taksi tersedia begitu banyak dan menjangkau hingga kawasan paling pelosok sekalipun. (Untuk menggunakan MRT dan bus, belilah kartu EZlink dengan harga $15 dimana $5 adalah tidak dapat dikembalikan dan $10 menjadi saldo yang dapat dipakai.) Ditambah dengan landmark kota yang begitu variatif, lengkap sudah pengalaman traveling di Singapura. Rute pertama berjalan-jalan hari ini dimulai dari kawasan Bugis yang bisa dijangkau melalui stasiun MRT Bugis. Stasiun MRT ini berada persis di bawah department store bernama BHG, dimana di lantai bawahnya juga terdapat food court mini yang selain menyediakan makanan khas Singapura juga menjual cemilan yang sangat terkenal itu yakni Old Chang Kee dengan versi yang lebih lengkap dibandingkan cabangnya di Jakarta. Di seberang tempat belanja ini terdapat Bugis Junction, sebuah mall dengan konsep pedestrian walk namun ber-AC.

Bugis Street.
Di seberang dari Bugis Junction, terdapat Bugis Street yang begitu terkenal. Pemandangan manusia berjejal, sebagiannya berasal dari Indonesia, memilih-menawar-membeli sekumpulan souvenir, baju, aksesoris, dll. Di bagian paling depan dari Bugis Street juga terdapat penjual jus buah seharga 1$ yang terkenal, dan di sampingnya terdapat Bee Cheng Hiang atau dendeng yang terkenal mahal namun sangat lezat yang kini juga telah membuka beberapa store di Jakarta dan Surabaya. Dari Bugis Street, jalan terus melalui lapak-lapak berderet teratur dengan begitu banyak toko yang begitu bising, sampailah di OG Department Store di sebelah kanan. OG ini seperti Matahari atau Metro kalau di Indonesia, barangnya bagus-bagus, harganya terjangkau, dan sering ada diskon. Sayang saat itu kaki sudah tidak mendukung untuk terus berjalan, padahal di ujung jalan itu masih terdapat Sim Lim Square, pusat elektronik yang terkenal di Singapura.

Puas berkeliling di wilayah Bugis, kami pun segera beranjak menuju ke IMM Shopping Mall di kawasan Jurong East dengan menggunakan MRT dan turun di Jurong East MRT Station (setelah itu lanjut dengan menggunakan shuttle bus gratis yang disediakan oleh pihak mall.) Mall 5 lantai ini terkenal dengan toko retail dan factory outlet yang memberikan diskon dari waktu ke waktu seperti Timberland, Esprit, G2000, i-Outlet (Crocs), Giordano, Bossini, 25-Hour, Factory Direct Sale and New Balance, serta Samsonite. Selain itu masih ada toko lifestyle lain seperti Best Denki, Daiso, dan Sony Style.

MARINA BAY SANDS


Marina Bay Sands
Sorenya, kami mengunjungi salah satu landmark baru Singapura yakni Marina Bay Sands, sebuah pusat hiburan terpadu yang menghadap Teluk Marina. Dikembangkan oleh Las Vegas Sands, Marina Bay menghabiskan dana sekitar Rp 56 triliun untuk pembangunannya yang berupa kasino, hotel, tempat belanja, museum, serta cafe dan restoran. Kesan sangat mewah begitu terasa begitu kami menginjakkan kaki di area mall yang dapat dicapai dengan MRT Bayfront ini. Setelah puas berjalan-jalan di area mall, kami pun mencoba untuk memasuki area kasino yang konon merupakan kasino termegah kedua di dunia setelah induknya di Las Vegas ini. Setelah melalui tahap pemeriksaan pakaian (gunakanlah pakaian smart casual - tidak diperkenankan menggunakan sandal jepit), paspor, maka kami pun diijinkan untuk masuk. Namun sayang, kami tidak diperkenankan untuk mengambil foto di tempat ini. Selain kasino, Marina Bay Sands juga dilengkapi dengan sebuah mall kelas middle-up yang menawarkan berbagai merek ternama seperti Louis Vuitton, Boss, Salvatore Ferragamo serta restoran kelas atas seperti Ku De Ta yang juga mempunyai cabang di pulau dewata, Bali.

INTERMEZZO: bertemu uncle di Chinatown

Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam ketika kami memutuskan untuk keluar dari MBS dengan perut kelaparan karena tadi asyik berkeliling di Marina Bay Sands dan belum sempat makan malam sedangkan mall sudah menunjukkan tanda-tanda akan tutup. Beruntung MRT masih beroperasi dan kami pun memutuskan untuk makan malam di kawasan Chinatown yang memang masih ramai hingga tengah malam. Begitu keluar dari area Pagoda Street, kami pun bertanya kepada salah satu warga setempat, dia pun begitu ramah menjelaskan banyak hal tentang kawasan khas etnik itu kepada kami. Di akhir pertemuan, dia bertanya apakah kami berasal dari Indonesia, dan begitu kami menjawab iya, dia langsung kegirangan dan bercerita bahwa istrinya juga orang Indonesia yakni dari kawasan Riau. Wow!!

Malam itu kami akhirnya memilih Tiong Shian Porridge Centre 長城粥品 yang terletak di New Bridge Road yang terkenal dengan bubur aneka rasanya berkat rekomendasi dari uncle (orang Singapura biasa menyebut orang yang lebih tua sebagai uncle) yang beristrikan orang Indonesia tadi. Dan ternyata benar saja, rasanya sangat lezat, ditambah dengan sayup-sayup musik etnik Chinese kuno yang diputar melalui radio di atas meja, lampion berkelap-kelip yang digantung untuk memeriahkan suasana, banyak suara percakapan riuh rendah menggunakan bahasa Mandarin khas Singapura, benar-benar membawa kami ke kehidupan ala Shanghai malam itu.


Sesudah mengisi perut, kami pun kembali ke penginapan di daerah Clarke menggunakan bus.

-sekian perjalanan hari ketiga, see you on next chapter-

Sunday, 13 May 2012

Genting, Bukan Genteng.

Acara hari kedua diisi dengan mengunjungi salah satu themepark terkenal di Asia, Genting Highlands. Perjalanan dimulai dengan menaiki monorail dari stasiun Bukit Bintang menuju ke stasiun Titiwangsa. Dari stasiun inilah, bus Genting Express Bus Service berangkat menempuh perjalanan selama sejam menuju ke perbukitan yang disebut Genting Highlands, yang terletak sekitar 1850 meter di atas permukaan laut yang merupakan puncak gunung di Pegunungan Titiwangsa di perbatasan antara negara bagian Pahang dan Selangor. Suhu udara di Genting adalah sekitar 13° C sampai dengan 25° C. Genting Highlands adalah resor pegunungan pertama yang didirikan oleh Tan Sri Lim Goh Tong pada akhir tahun 1960, saat ini dipimpin oleh anaknya Tan Sri Lim Kok Thay. Sebagai “City of entertainment”, genting memiliki beragam hiburan berbasis keluarga dimulai dari kasino yang menawarkan berbagai macam permainan judi mulai dari Roulette, Baccarat, Blackjack, Tai Sai, Pai Gow, dan Carribean Stud Poker. Selain itu, Genting juga menyediakan theme park baik indoor maupun outdoor yang menarik.

Pemandangan dari atas bukit.
Udara dingin menyambut kami begitu turun dari bus, cacing yang sudah menari-nari di perut kontan membuat kami serabutan mencari makanan hangat di tengah dinginnya angin yang bertiup kencang. Agar diingat, makanan di Genting lebih mahal apabila dibandingkan dengan Kuala Lumpur. Namun hal ini menjadi wajar mengingat 'perjuangan' untuk mengirim dan menjaganya tetap hangat di tengah bukit sedingin ini. Makanan yang paling murah di Genting Highlands adalah nasi lemak yang dikemas di dalam kotak seharga RM 4 atau mie instant dalam cup sejenis Pop Mie yang juga seharga RM 4. Air mineral dalam botol 500 ml seharga RM 2-2.5. Snack seperti donat, sosis, nugget, es krim berkisar antara RM 4-10.

First World Hotel, Genting Highlands.
Selain terkenal dengan theme park outdoor dan indoornya, Genting juga mempunyai setidaknya 5 kasino berlainan yang cukup banyak menyedot perhatian pelancong asal Indonesia dan Timur Tengah. Kami sempat mencoba memasuki salah satu kasino yakni di First World Hotel. Untuk masuk ke dalamnya terlebih dahulu ada pemeriksaan paspor serta melewati metal detector, namun pemeriksaannya tidaklah seketat saat akan memasuki kasino di Marina Bay Sands (tunggu di chapter berikutnya). Overall, untuk lokasinya yang cukup jauh dari KL, memakan waktu-energi-dan tentu biaya, Genting masih sangat worth it untuk dikunjungi sebagai bagian dari trip ke Malaysia.

Menjelang sore, kami bergegas menaiki kembali bus menuju Titiwangsa Station dengan harapan masih bisa mampir membeli sedikit oleh-oleh tambahan dari Kuala Lumpur. Dan akhirnya kami mengunjungi Sungei Wang Plaza, yang malnya menyatu dengan Bukit Bintang Monorail Station. Mal yang cukup sederhana, apabila dibandingkan dengan gemerlapnya mal di Bukit Bintang yang lain, namun ternyata cukup banyak camilan khas Malaysia yang bisa dibeli di tempat ini. Diantaranya adalah coklat Berryl's berbagai macam rasa, crackers merek "Munchy's", teh tarik asli Malaysia, hingga coklat Cadbury yang padahal sudah banyak dijual di swalayan di Indonesia.

Tidak lama di Sungei Wang, kemudian kami segera mengambil barang di penginapan dan menuju KL Sentral untuk menaiki Skybus dengan tujuan LCCT, dimana AirAsia AK721 tujuan Singapore sudah menunggu kami, dan siap membawa kami menuju Changi Airport. :)

Next Chapter: Singa, mana Singa?


Wednesday, 2 May 2012

Kuala Lumpur: Jalan, Jajan, Belanja

Tiga hal ini memang selalu menjadi tujuan utama dari para pelancong setiap kali mendatangi sebuah tempat. Hal ini pula yang kami lakukan di pusat kota Kuala Lumpur, atau yang lebih sering disebut KL.

1. Bukit Bintang

Bukit Bintang

Merupakan sebuah jalanan panjang yang terdiri dari mal, cafe, restoran, minimarket, hingga sauna. Tak terhitung berapa jumlah restoran waralaba di sepanjang jalanan yang sering disebut sebagai Orchard Road-nya KL ini. Demikian juga dengan pusat perbelanjaan dan mal yang sangat menjamur di area yang dapat dijangkau dengan taksi atau monorail stasiun Bukit Bintang ini. Ketika malam hari, Bukit Bintang juga menjadi pusat hang out yang terus hidup dan bersinar terang bahkan hingga larut malam.



Pavilion Crystal Fountain
Mal yang menarik diantaranya adalah The Pavilion, sebuah mal yang di depannya terdapat Pavilion Crystal Fountain. Bentuknya seperti tiga buah mangkuk berbeda ukuran yang disusun ke atas, terbuat dari kristal kaca, dengan corak bunga hibiscus yang merupakan bunga nasional Malaysia sebagai simbol dari kemewahan, passion, dan kemajuan Malaysia. Tiga cawan tersebut melambangkan multiracial culture yang hidup dalam keselarasan. Sebagai catatan, saat ini pemerintah Malaysia sedang benar-benar mencanangkan kampanye "Satu Malaysia" sebagai usaha menyatukan tiga etnis besar disana yakni Melayu, Chinese, dan India. Kemudian pancaran air dari segala arah untuk mengisi cawan tersebut melambangkan sumber kesejahteraan dan berkat itu datang dari mana saja. Bahan dari kristal kaca tersebut melambangkan kemakmuran dari Kota Kuala Lumpur dan Negara Malaysia.

2. Suria KLCC - Menara Petronas


Menara Petronas
Gak lengkap rasanya mengunjungi Kuala Lumpur tanpa berfoto di menara Petronas, yang merupakan menara kembar tertinggi di dunia. Selain itu, di bawahnya persis terdapat mal yang dinamakan Suria KLCC. Sebuah mal yang tidak lebih bagus dari The Pavilion namun cukup lengkap dan besar sehingga sekilas nampak seperti Mal Taman Anggrek di Jakarta. Outlet-outlet yang menarik di Suria KLCC diantaranya adalah i-setan, Jimmy Choo, Kinokuniya Book Store, serta Vincci. Dari KLCC kita bisa langsung berfoto-foto dengan latar belakang Petronas Tower. Tempat yang bisa dijangkau dengan LRT ataupun taksi ini sangat luas, dan di depan area mal juga terdapat taman yang sangat pas untuk dijadikan tempat berfoto. Namun menurut pendapat pribadi saya, area Petronas yang merupakan CBD dari Kuala Lumpur belumlah seelit segitiga emas Jakarta yakni Sudirman-Thamrin, Rasuna Said-Gatot Subroto. Entah kenapa masih ada beberapa area yang belum tertata dengan rapi dan penataan taman yang masih sedikit terkesan semrawut. Namun taman di tengah jalan sudah sangat bagus dan rindang, mengingatkan saya akan Jalan Raya Darmo di Surabaya yang sangat rindang itu.


3. Central Market

Central Market yang merupakan gedung kuno bergaya Art-Deco yang di dalamnya berisi kios-kios yang menjual kerajinan khas Malaysia, lukisan, berbagai macam oleh-oleh, dan food court. Dapat diakses dengan LRT dan turun di stasiun Pasar Seni. Central Market dulunya adalah pasar tradisional yang kemudian pada tahun 1888 direnovasi untuk menampung para penjual di pasar tersebut. Gedung ini kemudian terus dilestarikan dan dibuat sebagai tempat belanja oleh-oleh bagi para turis. Banyak oleh-oleh khas Malaysia yang bisa kita dapatkan di sini. Diantaranya adalah miniatur Menara Petronas dan KL Tower, kaos bernuansa Malaysia, coklat Berryl beraneka rasa, bahkan hingga Secret Recipe, cake sangat lezat yang kini sudah bisa ditemukan di beberapa mal di Jakarta.

4. Petaling Street

Berjarak hanya beberapa puluh meter dari Central Market, Petaling Street merupakan Chinatown khas Kuala Lumpur yang identik dengan banyak barang kw (seperti di Mangga Dua) mulai dari jam tangan, tas bermerk, hingga pakaian. Namun jika Anda hendak berbelanja, wajiblah untuk menawar "setega" mungkin di tempat ini. Jika ingin mencari makan malam, inilah tempat yang pas, karena di sepanjang jalan begitu banyak makanan dan minuman yang dijual. Namun yang paling terkenal tentu adalah Ikan Panggang Portugis yang begitu legendaris. Letaknya persis di seberang Hong Leong Bank (tempatnya agak nyempit, cobalah untuk bertanya ke penjual di sekitarnya) dan tentu minuman Air Mata Kucing di depannya. Kedua makanan itu wajib dicoba bila Anda mengunjungi Petaling Street.

Sekian dulu perjalanan untuk hari pertama, see ya on the next chapter!! :D

Sunday, 29 April 2012

Dan Perjalanan Itupun Dimulai

Berawal dari iseng melihat tiket-tiket promo via web AirAsia beberapa bulan lalu, akhirnya tercetus satu rencana untuk jalan-jalan keluar negeri pake duit sendiri (ini yang penting!). Negara yang dipilih kali ini adalah yang deket-deket aja: Malaysia & Singapore. Oh iya, kenapa kok lebih milih jalan-jalan keluar negeri, ini bukan karena gak punya rasa nasionalisme atau gak cinta Indonesia lo ya. Tapi justru dengan banyak melihat negeri orang, kita akan semakin bersyukur dan mencintai negeri kita sendiri, bukan? :)

Tujuan pertama: Malaysia! Oke, ini memang negeri yang penuh dengan kontroversi di tengah banyaknya konflik dengan negara kita. Sebagian orang mulai menunjukkan gejala anti-Malaysia, bahkan ada yang menyarankan presiden untuk menutup saja kedutaan besar kita disana. Tapi apapun, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu hal itu, sampai kamu merasakannya sendiri kan? Nah, welcome to Kuala Lumpur!

Saya enggak sendiri, perjalanan kali ini merupakan perjalanan keluarga. Ada papa, mama, koko, dan istrinya. Perjalanan sebenernya jadi agak repot, karena banyaknya orang dan kami semua sama-sama belum terbiasa untuk melakukan perjalanan sendirian (baca: kebiasaan ngikut tour). Beruntung sekarang teknologi sudah canggih. Tinggal sekali klik, ribuan informasi dari mbah Google udah cukup buat nuntun kita sampe kemanapun dengan selamet. Belum lagi sistem GPS dan Google Maps yang sudah terintegrasi dengan hampir segala jenis smart mobile. Kayaknya pergi sendiri di jaman sekarang udah gak perlu canggung dan khawatir lagi. Remember, worrying gets you nowhere.

Beberapa hari sebelumnya, kami sudah melakukan self check-in melalui web dan ngeprint boarding pass. Jadi udah dapet nomer kursi di pesawat, sehingga pas di counter check-in cukup verifikasi data bentar aja, plus bayar airport tax internasional Rp 150 ribu (aissh mahalnya..) abis itu langsung, menuju imigrasi untuk keberangkatan. Gak banyak masalah, petugas imigrasi juga gak banyak nanya (mungkin karena waktu itu jam masih menunjukkan jam 5pagi, jadi si petugas juga masih setengah tertidur) langsung deh dikasih cap DEPARTURE. Yihaaa!!

Memasuki gate keberangkatan, ternyata udah cukup ramai ama penumpang yang juga nungguin pesawat AirAsia. Sebagian besarnya adalah bule asal Aussie, Jepang, China. Serius mungkin WNI di pesawat ini gak lebih dari 10 orang. Jadwal penerbangan 06.00, ternyata 05.30 seluruh penumpang udah disuruh buat baik pesawat untuk pengaturan tempat duduk, peragaan keselamatan, sehingga jam 06.00 teng, pesawat sudah terbang ke Kuala Lumpur.

Setibanya di KL, ternyata pesawat AirAsia mendarat di LCCT terminal, atau merupakan terminal Kuala Lumpur International Airport yang dibangun khusus untuk pesawat low cost carrier seperti AirAsia, Tiger Airways, dan FireFly. Letaknya sekitar 70 km dari pusat kota Kuala Lumpur. Untuk menuju pusat kota, ada tiga pilihan. Yakni menggunakan kereta cepat KLIA Transit dengan tarif RM 12.5, taksi (di KL tidak ada taksi argo, harga negotiable), dan yang terakhir adalah bus. Ada dua pilihan bus, yakni Aerobus berwarna kuning seharga RM 8, atau Skybus berwarna merah yang merupakan grup dari AirAsia seharga RM 9. Saya lebih memilih menggunakan Skybus yang turun di KL Sentral lalu kemudian dilanjutkan menggunakan taksi hingga ke daerah Bukit Bintang, tempat kami menginap.

Oke sekian dulu chapter pertama dari cerita perjalanan ini, see ya on the next chapter!