Showing posts with label Holiday. Show all posts
Showing posts with label Holiday. Show all posts

Saturday, 26 November 2016

JOGJAKARTA TRAVEL GUIDE

Jogjakarta has always been my top local travel destinations in Indonesia, when I am writing these travel guide stories, I find it hard for me to start with them, not only because each place is different, they are also charming in their own way, if you ask me what I truly love the most about Jogjakarta, then it's most likely the humbleness of the overall, and the people.

Post ini bakal menjadi guidance buat kamu travelling di Jogjakarta, dan bagi first-timer, saya berharap postingan ini bakal ngebantu kamu. Tentu ini bukanlah list yang komplit karena saya disini dalam waktu yang terbatas. Normalnya untuk menelusuri Jogjakarta kamu bakal butuh 4 hari, hal ini termasuk mengunjungi Kota Solo atau Surakarta yang hanya berjarak 60 menit. I have been to Jogjakarta five times in my life and there is just something so mysterious about Jogjakarta that I find each visit to be quite different.

LOKAL RESTAURANT
(Twitter/Instagram: @lokal_id)

Begitu mendarat di Bandara Adi Sucipto, Restaurant Lokal menjadi lokasi breakfast kami. Tempat yang juga menjadi salah satu lokasi syuting AADC2 ini menawarkan berbagai menu lokal khas Jogjakarta dan masakan Indonesia secara umum.

Rate: 8/10
Price: Rp 30.000 - 50.000
Lokasi: Jalan Jembatan Merah NO.104C, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55283







HOUSE OF RAMINTEN

Tempat makan yang buka 24 jam, kental dengan nuansa mistis namun wajib dikunjungi. Menunya begitu unik dengan harga aman di kantong.

Rate: 7/10
Price: Rp 1.500 -  17.500
Lokasi: Jalan Faridan Muridan Noto No. 7, Kotabaru, Gondokusuman, Kotabaru, Gondokusuman, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55224

GUDEG BU DJUMINTEN

Selalu jadi favorit setiap kembali ke Jogja, rasanya yang pas antara campuran manis dan asin. Berlokasi sekitar 15 menit berkendara dari kawasan Malioboro, gudeg Bu Djuminten adalah must-visit kalau kamu berada di kota gudeg ini.

Rate: 7,5/10
Price: Rp 16.000 - 24.000
Lokasi: Jl. Poncowinatan No.51a, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233

IL TEMPO DE GELATO

Gelato ala Jogja yang tidak kalah dengan gelato di Bali! Rasanya begitu pas dan gak bikin eneg. Maklum karena ternyata empunya adalah warga Italy asli. Di tengah cuaca panas siang hari, Il Tempo De Gelato adalah surga! 

Rate: 7,5/10
Price: Rp 24.000 - 30.000
Lokasi: Jl. Prawirotaman No.43, Brontokusuman, Mergangsan, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55153






SATE KLATAK PAK BARI

Juga merupakan salah satu lokasi syuting film AADC2, sate daging sapi yang dimasak dengan jeruji besi ini merupakan masakan khas Jogja. Kematangan yang merata dan gurih merupakan rahasia kelezatannya. Jangan sampai salah, karena di lokasi ini begitu banyak terdapat pilihan sate klatak, namun yang paling terkenal adalah Pak Bari.

Rate: 7/10
Price: Rp 20.000 - 40.000
Lokasi: Jl. Kedaton, Pleret, Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta

ROASTER AND BEAR
(Instagram: @roasterandbear)

Konsep cafe & resto kekinian yang Instagramable, lokasinya di Jalan Mangkubumi yang hanya 10 menit dari Malioboro dan 1 menit dari Tugu Jogja membuat Roaster and Bear tidak pernah sepi pengunjung. Masakan dan kue yang dihidangkan juga nikmat dengan harga yang masih reasonable. Disini, kita bisa berfoto bersama boneka Bear yang sangat besar.

Rate: 8/10
Price: Rp 35.000 - 55.000
Lokasi: Jl. Margo Utomo No.52, Gowongan, Jetis, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta 55233





JEJAMURAN

Cukup terkenal di kalangan wisatawan karena lokasi restaurantnya yang cukup strategis dan di jalur Jogja-Magelang dan pasti dilewati oleh wisatawan yang hendak menuju atau kembali dari kawasan Candi Borobudur. Seluruh masakan yang dihidangkan adalah terbuat dari jamur. Apabila Anda kembali dari Borobudur di siang atau sore hari, jangan lupa untuk mampir di Jejamuran.

Rate: 7.5/10
Price: Rp 45.000 - 60.000
Lokasi: Jalan Pramuka, Niron, Pandowoharjo, Kec. Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55512.


Selain beberapa wisata kuliner di atas, Jogjakarta juga kental akan nuansa sejarah dan budaya. Beberapa tempat yang wajib kamu kunjungi di Jogjakarta:

CANDI PRAMBANAN



TAMAN SARI WATER CASTLE 



RUMAH DOA BUKIT RHEMA (GEREJA AYAM) 

Selain tempat di atas, tentunya adalah wajib sifatnya untuk mengunjungi tempat must-visit di Jogja seperti Malioboro, Keraton Jogja, Museum Benteng Vredeburg, Candi Ratu Boko, serta Wisata Alam Kali Biru yang semakin terkenal.

TRANSPORTASI

Apabila ingin menggunakan transportasi umum, TransJogja merupakan layanan mass road transport yang cukup reliable dan handal. Selama disana, kami beberapa kali menggunakan layanan bus ini. Bagi kalian yang memiliki Flazz BCA & Mandiri e-Money, kedua kartu cashless ini bisa digunakan di shelter TransJogja dan mendapatkan potongan harga (menjadi hanya Rp 2.400 dibandingkan harga normal Rp 3.500). TransJogja terdiri dari 4 line dan dapat menjangkau beberapa lokasi penting seperti Bandara Adi Sucipto, Candi Prambanan, Malioboro (ada tiga shelter yakni Stasiun Tugu, Malioboro Mal, dan Pasar Beringharjo), Tugu Jogja, Terminal Jombor, hingga Tugu Monjali. Saya pribadi tidak menganjurkan penggunaan angkot, delman, ataupun becak (apalagi apabila Anda tidak menguasai jalanan kota Jogja).

Dalam kunjungan terakhir ke Jogjakarta, kami juga sempat mencoba layanan taxi online berbasis aplikasi yakni SayTaxi dan menurut saya layanan yang diberikan sangatlah reliable dan nyaman dengan jumlah armada yang cukup banyak. Harganya pun masih relatif murah apabila dibandingkan dengan taxi konvensional.

"Ramai kaki lima menjajakan sajian khas berselera orang duduk bersila"
KLA PROJECT - JOGJAKARTA
Quoting KLA Project's famous 90s hit "Jogjakarta" and it perfectly describes Malioboro's food scene where it's packed with food stalls Lesehan style where people sit on the floor shoeless. 

Yogyakarta is beautiful in every possible way, it has this beautiful blend of everlasting old culture and young soul. It's the smile and kind heart of the people that leaves the biggest love in my heart. Can't wait to go back to Jogjakarta soon! I hope you enjoy reading this post and I hope this is beneficial for you too. 

Anda punya rekomendasi atau ulasan tentang tempat lain di Jogjakarta? Drop di kolom comment ya! ;)

Sunday, 20 October 2013

Ho Chi Minh City: Discovering heritage part and war remnants (Part 3 of 3)

Setelah puas mengelilingi daerah luar kota Saigon, hari ini kita akan menghabiskan waktu hanya untuk mengeksplor daerah Ho Chi Minh City dengan.. berjalan kaki. YA! Berjalan kaki merupakan pilihan paling tepat untuk melihat setiap detil dari kota ini. Sebagian besar dari atraksi wisata juga terletak di district 1, pedestrian way yang lebar dan indah, ditambah dengan taman kota yang begitu rindang rasanya tidak sulit untuk berjalan kaki di salah satu kota favorit saya di Asia Tenggara ini.

Pagi di Ho Chi Minh City kami buka dengan meminum es kopi yang banyak dijual di warung-warung dekat hotel kami di Bui Vien Street (Ben Tanh Market area). Setelah puas menikmati kopi sambil melihat orang berlalu-lalang pertanda telah dimulainya pagi di kota Saigon, kami pun beranjak untuk membeli Banh Mi, sejenis roti yang diisi dengan sosis dan sayur lalu diberi bumbu spesial dan mayonaise. Rasanya sungguh lezat membuat kami siap untuk berjalan kaki sepanjang pagi hingga sore ini.

Gereja Notre Dame, Saigon.
Pemberhentian pertama kami adalah Catedral Notre Dame yang merupakan Gereja Katolik tertua di kota ini. Bangunannya yang masih apik dan terawat serta dilengkapi dengan patung Bunda Maria di depannya membuat gereja ini masih sering dijadikan lokasi pre-wedding oleh beberapa pasangan. Saat kami berada disana pun ada sekitar tiga pasangan yang sedang mengambil foto mesra asyik masyuk. *melipir*

Oh ya, konon katanya sekitar bulan Oktober 2005, patung Bunda Maria di depan Gereja Catedral Notre Dame ini pernah mengeluarkan air mata berwarna merah yang membuat heboh seisi kota Saigon dan setelah itu begitu banyak orang dari berbagai tempat datang untuk melihat hal ini.

Dari sana kita menuju ke Bui Vien alias kantor pos Saigon (Bưu điện Thành phò Hò Chi Minh). Bangunan indah yang berdampingan dengan Gereja Katedral ini dirancang oleh Gustave Eiffel, perancang menara Eiffel di Paris, Prancis. Ini bukanlah kantor pos biasa, namun sebuah karya seni peninggalan sejarah yang tampak berjajar dengan serasi dengan Catedral Notre Dame.

Reunification Palace, Saigon.
Puas dari sana dan menikmati indahnya taman kota Saigon, kami segera beranjak sedikit menuju Reunification Palace atau yang dulunya merupakan istana Presiden Vietnam Selatan. Dibangun pada awal tahun 1960an dan dirancang oleh arsitek Vietnam terkemuka Ngo Viet Thu, disinilah tempat tinggal dan juga kantor Presiden Vietnam Selatan sampai tentara komunis Vietnam Utara akhirnya berhasil merebut istana ini pada tanggal 30 April 1975.

Dengan kemenangan Vietnam Utara, maka berakhirlah perang Vietnam dan tentara Amerika pun melarikan diri. Tanggal 30 April pun diperingati sebagai "The Fall of Saigon" dan menandai bersatunya kembali negara Vietnam. Tepat dihalaman istana terpajang dua buah tank yang digunakan oleh tentara Vietnam Utara untuk merubuhkan pintu gerbang istana ini. Untuk memperingati kejadian bersejarah itu, istana ini selanjutnya dijadikan museum dan disebut sebagai "Reunification Palace".

Malam di Ho Chi Minh City.

Kami pun menikmati malam hari di sekitar Opera House. Setelah keluar masuk Diamond Plaza, salah satu mal kelas atas di Saigon mata kami pun melihat "Paris Baguette Cafe" yang sangat terkenal itu. Setelah perut kenyang, kami kembali mengeksplor sisi lain kota Saigon yang tak pernah membuat kami bosan. Rupanya sisa-sisa penjajahan Prancis berupa bangunan dengan arsitektur klasik namun elegan terus dirawat sebagai bagian dari keunikan kota ini. Tak heran Saigon sering disebut sebagai Paris Phuong Đông, atau Paris di timur.

Saya pribadi sangat menyukai kota ini, lengkap dengan tamannya yang asri, pedestrian way yang rapi, serta penduduknya yang ramah membuat kota ini nyaris mendekati sempurna sebagai salah satu kota yang ramah bagi penduduk aslinya maupun kepada wisatawan asing yang berkunjung.

Malam semakin larut, dan saatnya kami harus kembali ke hotel (setelah kembali menikmati segarnya segelas Trung Nguyen Coffee) untuk beristirahat karena besok seharian kami akan transit dan mengksplor Singapura. Mata mulai mengantuk, namun di kejauhan musik masih berdentuman mewarnai ramainya Ho Chi Minh City. Saatnya untuk mengucapkan see you again, Vietnam! :)


Sunday, 19 May 2013

Malioboro, Borobudur, dan Trans Jogja

Hari kedua di Jogja selain Malioboro juga akan diisi dengan wisata candi. Apalagi kalau bukan Borobudur dan Prambanan, keduanya sangat indah dan yang paling penting keduanya merupakan peninggalan bersejarah karya anak bangsa -yang sayangnya- terkesan kurang diperhatikan oleh pemerintah akan pengelolaan dan perawatannya.

Setelah puas menyantap breakfast di Hotel Whiz Jalan Dagen (Malioboro area) berupa Gudeg Yu Djum, perjalanan pun dimulai dengan menaiki Trans Jogja rute 2A di Halte Malioboro lalu berhenti di Terminal Jombor. Sempat ada ganti halte sekali (saya lupa nama haltenya) tapi ini bisa ditanyakan kepada petugas Trans Jogja di halte maupun di dalam bus. Secara umum para petugas bus sangatlah ramah dan informatif tentang tujuan dan objek wisata di Yogyakarta. Dari terminal Jombor, naiklah bus jurusan Borobudur (sekitar 1 jam arah Magelang dan ongkosnya 10 ribu). Turunlah di pemberhentian terakhir (tanyakan kepada kondektur di atas bus). Ingatlah bahwa ini adalah bus non-AC, namun mengingat udara di Jogja tidak sepanas di Bali maupun Surabaya rasanya ini tidaklah masalah). Dari terminal terakhir ini, bisa naik andong atau becak ke candinya (biasanya kusir akan menawarkan paket ke tiga candi yang akan membuat Anda bingung karena disitu juga ada Candi Mendut, jadi sebaiknya langsung saja bilang kalau mau ke Candi Borobudur) ongkos sekitar 10-15 ribu (ingat rajin nawar).

Tiket masuk candi harganya 30ribu, dan kompleks candi ini dibuka mulai pukul 6 pagi. Saran saya kalau Anda tidak mau berpanas-panasan dan berjubel dengan turis lain, datanglah pagi hari ketika kompleks candi masih sepi. Setelah masuk, Anda akan ditawari untuk naik kereta untuk mendekati candi. Saran saya naiklah kereta ini, selain tarifnya hanya 10ribu juga ada free air minum botol dan jarak ke candi ternyata lumayan jauh apabila berjalan kaki, lumayan ngirit tenaga terutama bagi Anda yang punya jadwal yang masih cukup padat. Bagi yang mau membeli barang dan oleh-oleh harga di dalam kompleks candi ini termasuk murah dan lebih rasional dibandingkan dengan penjual di pinggir jalan Malioboro (jangan lupa rajin nawar).

Setelah keluar dari Candi Borobudur, kami kembali ke Kota Jogja. Tujuan berikutnya adalah Candi Prambanan. Rute kesini adalah seharusnya kemarin sore sekembalinya dari Solo. Namun karena hujan deras yang tak kunjung berhenti, akhirnya rute Candi Prambanan harus dimasukkan ke hari kedua. Turun di Halte Prambanan, harga tiket masuk ke kompleks candi juga 30ribu. Rupanya karena gempa yang menimpa Jogja pada 2010 silam, saat ini Candi Prambanan cukup rusak parah. Proyek konstruksi ulang dan perbaikan yang dilakukan oleh pemerintah masih belum dapat menyentuh seluruh sisi candi yang begitu bersejarah ini. Sedih rasanya melihat peninggalan sejarah harus retak-retak dan terkesan diabaikan oleh pemerintah Indonesia.

Sekembalinya dari Candi Prambanan, hari sudah hampir sore ketika kami menaiki Trans Jogja dan turun di Halte Malioboro 2 yang berada dekat dengan Jalan Dagen. Karena seharian sudah berkeliling dan menikmati keindahan candi, malamnya kami mengunjungi Plaza Ambarukmo Jogja yang konon merupakan salah satu mall terbesar di kota ini. Dan benar saja, malam itu suasana cukup ramai. Setelah berkeliling dan mencoba beberapa cakes, kami akhirnya kembali lagi ke Malioboro untuk menikmati suasana khas Jogja. Di dekat Mal Malioboro kami mencoba Artemi Ice Cream yang cukup terkenal dan memang benar bahwa rasanya sangat nikmat dan dapat dicoba.

Wednesday, 5 December 2012

Let's Get Lost!

Sabtu, 22 September 2012

Subuh baru saja menyapa, dan hari masih begitu pagi ketika taksi dengan logo burung bernuansa biru yang aku tumpangi membelah jalan Teuku Umar Denpasar untuk menuju ke bandara internasional Ngurah Rai. Entah kenapa, ada perasaan senang menyelip setiap kali melihat jalanan ini begitu sepi. Jalanan yang biasanya begitu crowded, macet, ketika kendaraan tumpah ruah di satu-satunya jalan yang menghubungkan wilayah Denpasar, Kuta, Sanur, Jimbaran, dan Nusa Dua ini. Kondisi ini diperparah dengan proyek simpang jalan tak sebidang alias sering disebut dengan underpass simpang siur Dewa Ruci ini. Satu diantara sekian mega proyek untuk menyambut KTT APEC di Bali tahun 2013 nanti.

Suasana Keberangkatan Internasional Bandara Ngurah Rai.
Tak butuh waktu lama, taksi pun telah memasuki pelataran parkir Bandara Ngurah Rai, tempat yang sudah dua tahun belakangan ini selalu setia menjadi saksi dari setiap perjalanan yang aku lakukan. Tampak beberapa calon penumpang pesawat sudah menunggu ketika memasuki areal keberangkatan internasional. Sambil menggenggam pasport dan boarding pass di tangan, aku melewati deretan cafe dan restoran yang baru saja dibuka di areal bandara ini. Suasana masih cukup sepi, membuat perasaan nyaman tidak lekas hilang walaupun Ngurah Rai sudah terkenal sebagai salah satu bandara terburuk di negeri ini.


Let's Get Lost!
Jam telah menunjukkan pukul 04.30 WITA, bandara hanya terisi dengan beberapa penumpang yang akan terbang pagi itu. Aku sudah duduk manis di ruang tunggu keberangkatan bandara Ngurah Rai dengan memandangi jendela, tepat ke arah pesawat berwarna merah yang akan terbang pagi itu. Hampir sejam menunggu, announcement untuk keberangkatan penumpang pesawat AirAsia pun terdengar cukup kencang. Saatnya boarding. I'm ready to get lost for next nine days. And my first destination: Kuala Lumpur, Malaysia.

NB: next chapter, more than Kuala Lumpur!

Friday, 1 June 2012

Singa, Mana Singa?

Datang dari Indonesia dan sempat merasakan suasana Malaysia selama dua hari, membuat Singapura serasa menjadi kota yang teramat modern. Singapore atau Republik Singapura merupakan negara kota yang terletak di lepas ujung selatan Semenanjung Malaya. Jumlah penduduknya melebihi 5 juta jiwa namun hampir setengahnya merupakan orang asing yang bekerja dan menuntut ilmu di sana. Luas negara Singapore adalah 694 km2 atau tidak lebih luas dari Ibukota Jakarta. Namun selain sebagai pusat keuangan terdepan keempat di dunia, Singapura juga merupakan kota kosmopolitan berkelas dunia yang memainkan peran penting dalam berbagai sektor industri, perdagangan dan keuangan internasional. Pelabuhan Singapura merupakan pelabuhan tersibuk kelima di dunia yang menopang posisinya sebagai negara dengan pendapatan per kapita terbesar ketiga di dunia.

Moda transportasi massal yang sudah begitu berkembang membuat Kota Singa ini menjadi salah satu favorit traveler dari seluruh dunia untuk terus mengunjunginya. MRT, bus kota, hingga taksi tersedia begitu banyak dan menjangkau hingga kawasan paling pelosok sekalipun. (Untuk menggunakan MRT dan bus, belilah kartu EZlink dengan harga $15 dimana $5 adalah tidak dapat dikembalikan dan $10 menjadi saldo yang dapat dipakai.) Ditambah dengan landmark kota yang begitu variatif, lengkap sudah pengalaman traveling di Singapura. Rute pertama berjalan-jalan hari ini dimulai dari kawasan Bugis yang bisa dijangkau melalui stasiun MRT Bugis. Stasiun MRT ini berada persis di bawah department store bernama BHG, dimana di lantai bawahnya juga terdapat food court mini yang selain menyediakan makanan khas Singapura juga menjual cemilan yang sangat terkenal itu yakni Old Chang Kee dengan versi yang lebih lengkap dibandingkan cabangnya di Jakarta. Di seberang tempat belanja ini terdapat Bugis Junction, sebuah mall dengan konsep pedestrian walk namun ber-AC.

Bugis Street.
Di seberang dari Bugis Junction, terdapat Bugis Street yang begitu terkenal. Pemandangan manusia berjejal, sebagiannya berasal dari Indonesia, memilih-menawar-membeli sekumpulan souvenir, baju, aksesoris, dll. Di bagian paling depan dari Bugis Street juga terdapat penjual jus buah seharga 1$ yang terkenal, dan di sampingnya terdapat Bee Cheng Hiang atau dendeng yang terkenal mahal namun sangat lezat yang kini juga telah membuka beberapa store di Jakarta dan Surabaya. Dari Bugis Street, jalan terus melalui lapak-lapak berderet teratur dengan begitu banyak toko yang begitu bising, sampailah di OG Department Store di sebelah kanan. OG ini seperti Matahari atau Metro kalau di Indonesia, barangnya bagus-bagus, harganya terjangkau, dan sering ada diskon. Sayang saat itu kaki sudah tidak mendukung untuk terus berjalan, padahal di ujung jalan itu masih terdapat Sim Lim Square, pusat elektronik yang terkenal di Singapura.

Puas berkeliling di wilayah Bugis, kami pun segera beranjak menuju ke IMM Shopping Mall di kawasan Jurong East dengan menggunakan MRT dan turun di Jurong East MRT Station (setelah itu lanjut dengan menggunakan shuttle bus gratis yang disediakan oleh pihak mall.) Mall 5 lantai ini terkenal dengan toko retail dan factory outlet yang memberikan diskon dari waktu ke waktu seperti Timberland, Esprit, G2000, i-Outlet (Crocs), Giordano, Bossini, 25-Hour, Factory Direct Sale and New Balance, serta Samsonite. Selain itu masih ada toko lifestyle lain seperti Best Denki, Daiso, dan Sony Style.

MARINA BAY SANDS


Marina Bay Sands
Sorenya, kami mengunjungi salah satu landmark baru Singapura yakni Marina Bay Sands, sebuah pusat hiburan terpadu yang menghadap Teluk Marina. Dikembangkan oleh Las Vegas Sands, Marina Bay menghabiskan dana sekitar Rp 56 triliun untuk pembangunannya yang berupa kasino, hotel, tempat belanja, museum, serta cafe dan restoran. Kesan sangat mewah begitu terasa begitu kami menginjakkan kaki di area mall yang dapat dicapai dengan MRT Bayfront ini. Setelah puas berjalan-jalan di area mall, kami pun mencoba untuk memasuki area kasino yang konon merupakan kasino termegah kedua di dunia setelah induknya di Las Vegas ini. Setelah melalui tahap pemeriksaan pakaian (gunakanlah pakaian smart casual - tidak diperkenankan menggunakan sandal jepit), paspor, maka kami pun diijinkan untuk masuk. Namun sayang, kami tidak diperkenankan untuk mengambil foto di tempat ini. Selain kasino, Marina Bay Sands juga dilengkapi dengan sebuah mall kelas middle-up yang menawarkan berbagai merek ternama seperti Louis Vuitton, Boss, Salvatore Ferragamo serta restoran kelas atas seperti Ku De Ta yang juga mempunyai cabang di pulau dewata, Bali.

INTERMEZZO: bertemu uncle di Chinatown

Waktu telah menunjukkan pukul 10 malam ketika kami memutuskan untuk keluar dari MBS dengan perut kelaparan karena tadi asyik berkeliling di Marina Bay Sands dan belum sempat makan malam sedangkan mall sudah menunjukkan tanda-tanda akan tutup. Beruntung MRT masih beroperasi dan kami pun memutuskan untuk makan malam di kawasan Chinatown yang memang masih ramai hingga tengah malam. Begitu keluar dari area Pagoda Street, kami pun bertanya kepada salah satu warga setempat, dia pun begitu ramah menjelaskan banyak hal tentang kawasan khas etnik itu kepada kami. Di akhir pertemuan, dia bertanya apakah kami berasal dari Indonesia, dan begitu kami menjawab iya, dia langsung kegirangan dan bercerita bahwa istrinya juga orang Indonesia yakni dari kawasan Riau. Wow!!

Malam itu kami akhirnya memilih Tiong Shian Porridge Centre 長城粥品 yang terletak di New Bridge Road yang terkenal dengan bubur aneka rasanya berkat rekomendasi dari uncle (orang Singapura biasa menyebut orang yang lebih tua sebagai uncle) yang beristrikan orang Indonesia tadi. Dan ternyata benar saja, rasanya sangat lezat, ditambah dengan sayup-sayup musik etnik Chinese kuno yang diputar melalui radio di atas meja, lampion berkelap-kelip yang digantung untuk memeriahkan suasana, banyak suara percakapan riuh rendah menggunakan bahasa Mandarin khas Singapura, benar-benar membawa kami ke kehidupan ala Shanghai malam itu.


Sesudah mengisi perut, kami pun kembali ke penginapan di daerah Clarke menggunakan bus.

-sekian perjalanan hari ketiga, see you on next chapter-

Wednesday, 2 May 2012

Kuala Lumpur: Jalan, Jajan, Belanja

Tiga hal ini memang selalu menjadi tujuan utama dari para pelancong setiap kali mendatangi sebuah tempat. Hal ini pula yang kami lakukan di pusat kota Kuala Lumpur, atau yang lebih sering disebut KL.

1. Bukit Bintang

Bukit Bintang

Merupakan sebuah jalanan panjang yang terdiri dari mal, cafe, restoran, minimarket, hingga sauna. Tak terhitung berapa jumlah restoran waralaba di sepanjang jalanan yang sering disebut sebagai Orchard Road-nya KL ini. Demikian juga dengan pusat perbelanjaan dan mal yang sangat menjamur di area yang dapat dijangkau dengan taksi atau monorail stasiun Bukit Bintang ini. Ketika malam hari, Bukit Bintang juga menjadi pusat hang out yang terus hidup dan bersinar terang bahkan hingga larut malam.



Pavilion Crystal Fountain
Mal yang menarik diantaranya adalah The Pavilion, sebuah mal yang di depannya terdapat Pavilion Crystal Fountain. Bentuknya seperti tiga buah mangkuk berbeda ukuran yang disusun ke atas, terbuat dari kristal kaca, dengan corak bunga hibiscus yang merupakan bunga nasional Malaysia sebagai simbol dari kemewahan, passion, dan kemajuan Malaysia. Tiga cawan tersebut melambangkan multiracial culture yang hidup dalam keselarasan. Sebagai catatan, saat ini pemerintah Malaysia sedang benar-benar mencanangkan kampanye "Satu Malaysia" sebagai usaha menyatukan tiga etnis besar disana yakni Melayu, Chinese, dan India. Kemudian pancaran air dari segala arah untuk mengisi cawan tersebut melambangkan sumber kesejahteraan dan berkat itu datang dari mana saja. Bahan dari kristal kaca tersebut melambangkan kemakmuran dari Kota Kuala Lumpur dan Negara Malaysia.

2. Suria KLCC - Menara Petronas


Menara Petronas
Gak lengkap rasanya mengunjungi Kuala Lumpur tanpa berfoto di menara Petronas, yang merupakan menara kembar tertinggi di dunia. Selain itu, di bawahnya persis terdapat mal yang dinamakan Suria KLCC. Sebuah mal yang tidak lebih bagus dari The Pavilion namun cukup lengkap dan besar sehingga sekilas nampak seperti Mal Taman Anggrek di Jakarta. Outlet-outlet yang menarik di Suria KLCC diantaranya adalah i-setan, Jimmy Choo, Kinokuniya Book Store, serta Vincci. Dari KLCC kita bisa langsung berfoto-foto dengan latar belakang Petronas Tower. Tempat yang bisa dijangkau dengan LRT ataupun taksi ini sangat luas, dan di depan area mal juga terdapat taman yang sangat pas untuk dijadikan tempat berfoto. Namun menurut pendapat pribadi saya, area Petronas yang merupakan CBD dari Kuala Lumpur belumlah seelit segitiga emas Jakarta yakni Sudirman-Thamrin, Rasuna Said-Gatot Subroto. Entah kenapa masih ada beberapa area yang belum tertata dengan rapi dan penataan taman yang masih sedikit terkesan semrawut. Namun taman di tengah jalan sudah sangat bagus dan rindang, mengingatkan saya akan Jalan Raya Darmo di Surabaya yang sangat rindang itu.


3. Central Market

Central Market yang merupakan gedung kuno bergaya Art-Deco yang di dalamnya berisi kios-kios yang menjual kerajinan khas Malaysia, lukisan, berbagai macam oleh-oleh, dan food court. Dapat diakses dengan LRT dan turun di stasiun Pasar Seni. Central Market dulunya adalah pasar tradisional yang kemudian pada tahun 1888 direnovasi untuk menampung para penjual di pasar tersebut. Gedung ini kemudian terus dilestarikan dan dibuat sebagai tempat belanja oleh-oleh bagi para turis. Banyak oleh-oleh khas Malaysia yang bisa kita dapatkan di sini. Diantaranya adalah miniatur Menara Petronas dan KL Tower, kaos bernuansa Malaysia, coklat Berryl beraneka rasa, bahkan hingga Secret Recipe, cake sangat lezat yang kini sudah bisa ditemukan di beberapa mal di Jakarta.

4. Petaling Street

Berjarak hanya beberapa puluh meter dari Central Market, Petaling Street merupakan Chinatown khas Kuala Lumpur yang identik dengan banyak barang kw (seperti di Mangga Dua) mulai dari jam tangan, tas bermerk, hingga pakaian. Namun jika Anda hendak berbelanja, wajiblah untuk menawar "setega" mungkin di tempat ini. Jika ingin mencari makan malam, inilah tempat yang pas, karena di sepanjang jalan begitu banyak makanan dan minuman yang dijual. Namun yang paling terkenal tentu adalah Ikan Panggang Portugis yang begitu legendaris. Letaknya persis di seberang Hong Leong Bank (tempatnya agak nyempit, cobalah untuk bertanya ke penjual di sekitarnya) dan tentu minuman Air Mata Kucing di depannya. Kedua makanan itu wajib dicoba bila Anda mengunjungi Petaling Street.

Sekian dulu perjalanan untuk hari pertama, see ya on the next chapter!! :D

Sunday, 29 April 2012

Dan Perjalanan Itupun Dimulai

Berawal dari iseng melihat tiket-tiket promo via web AirAsia beberapa bulan lalu, akhirnya tercetus satu rencana untuk jalan-jalan keluar negeri pake duit sendiri (ini yang penting!). Negara yang dipilih kali ini adalah yang deket-deket aja: Malaysia & Singapore. Oh iya, kenapa kok lebih milih jalan-jalan keluar negeri, ini bukan karena gak punya rasa nasionalisme atau gak cinta Indonesia lo ya. Tapi justru dengan banyak melihat negeri orang, kita akan semakin bersyukur dan mencintai negeri kita sendiri, bukan? :)

Tujuan pertama: Malaysia! Oke, ini memang negeri yang penuh dengan kontroversi di tengah banyaknya konflik dengan negara kita. Sebagian orang mulai menunjukkan gejala anti-Malaysia, bahkan ada yang menyarankan presiden untuk menutup saja kedutaan besar kita disana. Tapi apapun, kamu tidak akan pernah benar-benar tahu hal itu, sampai kamu merasakannya sendiri kan? Nah, welcome to Kuala Lumpur!

Saya enggak sendiri, perjalanan kali ini merupakan perjalanan keluarga. Ada papa, mama, koko, dan istrinya. Perjalanan sebenernya jadi agak repot, karena banyaknya orang dan kami semua sama-sama belum terbiasa untuk melakukan perjalanan sendirian (baca: kebiasaan ngikut tour). Beruntung sekarang teknologi sudah canggih. Tinggal sekali klik, ribuan informasi dari mbah Google udah cukup buat nuntun kita sampe kemanapun dengan selamet. Belum lagi sistem GPS dan Google Maps yang sudah terintegrasi dengan hampir segala jenis smart mobile. Kayaknya pergi sendiri di jaman sekarang udah gak perlu canggung dan khawatir lagi. Remember, worrying gets you nowhere.

Beberapa hari sebelumnya, kami sudah melakukan self check-in melalui web dan ngeprint boarding pass. Jadi udah dapet nomer kursi di pesawat, sehingga pas di counter check-in cukup verifikasi data bentar aja, plus bayar airport tax internasional Rp 150 ribu (aissh mahalnya..) abis itu langsung, menuju imigrasi untuk keberangkatan. Gak banyak masalah, petugas imigrasi juga gak banyak nanya (mungkin karena waktu itu jam masih menunjukkan jam 5pagi, jadi si petugas juga masih setengah tertidur) langsung deh dikasih cap DEPARTURE. Yihaaa!!

Memasuki gate keberangkatan, ternyata udah cukup ramai ama penumpang yang juga nungguin pesawat AirAsia. Sebagian besarnya adalah bule asal Aussie, Jepang, China. Serius mungkin WNI di pesawat ini gak lebih dari 10 orang. Jadwal penerbangan 06.00, ternyata 05.30 seluruh penumpang udah disuruh buat baik pesawat untuk pengaturan tempat duduk, peragaan keselamatan, sehingga jam 06.00 teng, pesawat sudah terbang ke Kuala Lumpur.

Setibanya di KL, ternyata pesawat AirAsia mendarat di LCCT terminal, atau merupakan terminal Kuala Lumpur International Airport yang dibangun khusus untuk pesawat low cost carrier seperti AirAsia, Tiger Airways, dan FireFly. Letaknya sekitar 70 km dari pusat kota Kuala Lumpur. Untuk menuju pusat kota, ada tiga pilihan. Yakni menggunakan kereta cepat KLIA Transit dengan tarif RM 12.5, taksi (di KL tidak ada taksi argo, harga negotiable), dan yang terakhir adalah bus. Ada dua pilihan bus, yakni Aerobus berwarna kuning seharga RM 8, atau Skybus berwarna merah yang merupakan grup dari AirAsia seharga RM 9. Saya lebih memilih menggunakan Skybus yang turun di KL Sentral lalu kemudian dilanjutkan menggunakan taksi hingga ke daerah Bukit Bintang, tempat kami menginap.

Oke sekian dulu chapter pertama dari cerita perjalanan ini, see ya on the next chapter!


Monday, 11 July 2011

A Part of My Life in Bali (chapter 4 - tamat): Everyday is Holiday

Kehidupan di pulau dewata ini tampaknya sedikit banyak telah mempengaruhi kehidupanku secara sosial. Banyaknya hari libur lokal di Bali, ditambah angin sepoi-sepoi yang setia bertiup menambah suasana di Pulau yang konon sering dijuluki sebagai "Island of God" ini dapat disebut sebagai pulaunya liburan.. Pada posting kali ini saya akan menulis review tentang tempat asyik di Pulau Bali sekaligus menjadi seri penutup dari A Part of My Life in Bali (chapter 4 - tamat).

"So, everyday is holiday yeah?"

To be honest, spot favorit saya untuk menikmati weekend di pulau ini adalah Kuta. Sebuah area pantai terpadu yang dipenuhi oleh turis baik asing maupun domestik. Turis asing yang rajin menongkrongi pantai ini sebagian besarnya berasal dari Australia dan Jepang. Namun akhir-akhir ini tendensi Kuta sudah semakin menurun pasca lalu lintas yang teramat padat ditambah lagi dengan pembuatan saluran air dan pedestrian disana-sini menambah kesemrawutan area pantai yang tergolong prestisius ini. Lepas dari semua fakta itu, Kuta masih menjadi salah satu magnet bagi wisatawan. Jejeran restaurant dan cafe waralaba internasional seperti Burger King, Domino's Pizza, Häagen-Dazs, Bubba Gump Shrimp Co., Starbucks Coffee, Hard Rock Cafe, Black Canyon Coffee, hingga produk lokal nan laris seperti Oceans 27, Mayang Suki and Pancake, Warung Made's, dan tentu saja Flapjaks yang begitu terkenal itu.

Tidak sabar dengan review lainnya? Nantikan.